Warga Jakarta Masih Buang Tinja ke Sungai

Ketersediaan air bersih menjadi fokus utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta tahun 2018-2022.

Warga Jakarta Masih Buang Tinja ke Sungai
Warta Kota/Dwi Rizki
Padatnya permukiman warga di Jalan Cililitan Besar, Gang Siluman RT 03/03 Kebon Pala Makasar, Jakarta Timur. Keterbatasan lahan memicu warga untuk membuang tinja langsung ke dalam Kali Cipinang. 

WARTA KOTA, KRAMATJATI - Ketersediaan air bersih menjadi fokus utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta tahun 2018-2022, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno pun sibuk mengkampanyekan gerakan stop air tanah.

Namun, dibalik sosialisasi masif yang dilakukan keduanya, solusi justru belum didapatkan, khususnya terkait pencemaran limbah rumah tangga.

Permasalahan tersebut ditemui di sejumlah permukiman padat penduduk wilayah DKI Jakarta, seperti permukiman warga di sepanjang Kali Cipinang di wilayah Kelurahan Kebon Pala Kecamatan Makasar hingga Kelurahan Cililitan Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Warga yang bermukim di sepanjang aliran kali diketahui tidak memiliki septiktank pribadi, mereka membuang limbah rumah tangganya langsung ke kali.

Mirisnya kondisi tersebut diungkapkan Iman (38) warga Jalan Cililitan Besar, Gang Siluman RT 03/03 Kebon Pala Makasar, Jakarta Timur lantaran kondisi rumah warga yang saling rapat berhimpitan.

Karena keterbatasan lahan tersebut, warga terpaksa membuang tinja langsung ke kali yang hanya dibatasi jalan inspeksi.

Bukan hanya keterbatasan lahan serta dekatnya kali dengan permukiman, alasan warga membuang tinja langsung ke dalam kali katanya lebih disebabkan pencegahan pencemaran air tanah.

Sebab, seluruh warga masih menggunakan air tanah untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian lantaran belum adanya sambungan air PAM.

"Kalau banyak yang gali septiktank ya pasti tercemar air tanahnya, rumahnya kan rapet-rapet, makanya warga yang rumahnya di radius 20 meter dari kali kebanyakan langsung buang. Begini aja air sudah tercemar, apalagi kalau pasang septiktank sendiri," ungkapnya ditemui di rumahnya pada Rabu (4/4/2018).

Hal serupa disampaikan oleh sejumlah ibu-ibu di kawasan Cililitan, Jakarta Timur. Tercemarnya air sudah dalam kondisi yang memprihatinkan, air berwarna coklat keruh dan terkadang berbau anyir.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help