WartaKota/
Home »

News

» Jakarta

Septiktank Komunal Jadi Solusi Pencemaran Air Ibukota

Pilihan tersebut dinilainya sebagai solusi tepat untuk mengatasi kendala yang ditemui di lapangan, seperti minimnya ketersediaan lahan.

Septiktank Komunal Jadi Solusi Pencemaran Air Ibukota
Warta Kota/Dwi Rizki
Padatnya permukiman warga di Jalan Cililitan Besar, Gang Siluman RT 03/03 Kebon Pala Makasar, Jakarta Timur. Keterbatasan lahan memicu warga untuk membuang tinja langsung ke dalam Kali Cipinang. 

WARTA KOTA, GAMBIR -- Pencemaran limbah serta ketersediaan air bersih menjadi permasalahan umum yang terjadi di Ibukota, khususnya permukiman padat penduduk.

Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Teguh Hendrawan, mengatakan punya solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Menurutnya septiktank komunal bisa menjadi pilihan solusi untuk masalah itu.

Pilihan tersebut dinilainya sebagai solusi tepat untuk mengatasi kendala yang ditemui di lapangan, seperti minimnya ketersediaan lahan, pengolahan limbah rumah tangga yang mahal dan ketersediaan air bersih yang kini belum merata.

Terkait hal tersebut, dirinya mengaku telah mengusulkan kepada Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PD PAL) untuk menangguhkan pembangunan infrastruktur pengolahan limbah rumah tangga dengan membuat septiktank komunal.

Hal tersebut dibuktikannya lewat kinerja Perusahaan Daerah Pengolahan Air Minum (PD PAM Jaya).

"Jadi gini kebetulan saya jadi badan pengawas PD PAL. Memang ini kan yang menjadi masalah kita memang perpipaan (limbah) kita masih sangat kecil, PAM Jaya saja yang bekerja dengan swasta, 1997 mereka kontrak, 21 tahun baru dikatakan (memenuhi) kebutuhan 60 persen (air bersih)," ungkapnya kepada wartawan di Balaikota, Gambir, Jakarta Pusat pada Selasa (3/4/2018).

Bukan hanya anggaran dan percepatan masalah pencemaran, pilihan tersebut katanya juga merujuk pada pemahaman masyarakat terkait limbah.

"Air limbah ini kan saya rasa masyarakat belum sadar manajemen masalah limbah, ada program-program yang namanya sewerage system, zona dua di Cengkareng dengan dana bank dunia, loan, sampai sekarang realisasinya belum," jelasnya.

"Makanya kita mendorong, saya bilang ke teman-teman PAL, nggak usah jauh-jauh, kita bikin aja yang namanya komunal. Kenapa itu nggak bisa dilakukan? Saya bilang bisa kok, anda bayangkan Rp 800 juta itu kita bisa bikin komunal, di satu lokasi itu pengelolaan air masjid, dan lain-lain itu bisa kita kelola sendiri pakai water treatment. Kita bikinkan bangunan yang ada sumur resapan dan sana ada sedot tinja, bisa kita lakukan," tutupnya menambahkan.

Seperti diketahui sebelumnya, ketersediaan air bersih menjadi fokus utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta tahun 2018-2022.

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno pun sibuk mengkampanyekan gerakan stop air tanah.

Namun, dibalik sosialisasi masif yang dilakukan keduanya, solusi justru belum didapatkan, khususnya terkait pencemaran limbah rumah tangga.

Permasalahan tersebut ditemui di sejumlah permukiman padat penduduk wilayah DKI Jakarta, seperti permukiman warga di sepanjang Kali Cipinang di wilayah Kelurahan Kebon Pala Kecamatan Makasar hingga Kelurahan Cililitan Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Warga yang bermukim di sepanjang aliran kali diketahui tidak memiliki septiktank pribadi, mereka membuang limbah rumah tangganya langsung ke kali. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help