Luar Biasa, Nelayan Muara Angke Manfaatkan Ekosistem Mangrove Jadi Olahan Makanan

Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Junaedi mengatakan, pengolahan buah mangrove menjadi dodol, selai dan jus merupakan terobosan.

Luar Biasa, Nelayan Muara Angke Manfaatkan Ekosistem Mangrove Jadi Olahan Makanan
Selai dan jus hasil pengolahan buah pidada, salah satu jenis tanaman mangrove yang dikelola Komunitas Mangrove Hutan Mangrove dan PT Pembangkit Jawa-Bali UP Muara Karang. (Foto: Muhamad Azzam) 

WARTA KOTA, PENJARINGAN -- PT Pembangkit Jawa-Bali UP Muara Karang dan Komunitas Mangrove Muara Angke (KOMMA) mengembangkan Pantai Blok Empang seluas 1,5 hektare menjadi kawasan Hutan Mangrove Ecomarine.

Sejak tahun 2010, kawasan tersebut sudah ditanami bibit 27.000 pohon mangrove. Terdiri dari tanaman mangrove jenis bakau, api-api, nipah dan pidada sehingga membuat kawasan itu terlihat yang asri.

Keberadaan hutan mangrove di kawasan kampung nelayan tidak hanya mencegah datangnya air rob namun, juga menjadi program pemberdayaan masyarakat.

Kawasan Hutan Mangrove Ecomarine yang dikelola Komunitas Mangrove Hutan Mangrove (KOMMA) dan PT Pembangkit Jawa-Bali UP Muara Karang dimanfaatkan untuk program pemberdayaan masyarakat dengan mengoptimalkan manfaat ekosistem mangrove tersebut. (Foto: Muhamad Azzam)
Kawasan Hutan Mangrove Ecomarine yang dikelola Komunitas Mangrove Hutan Mangrove (KOMMA) dan PT Pembangkit Jawa-Bali UP Muara Karang dimanfaatkan untuk program pemberdayaan masyarakat dengan mengoptimalkan manfaat ekosistem mangrove tersebut. (Foto: Muhamad Azzam) ()

Risnandar Ketua Komunitas Mangrove Hutan Mangrove (KOMMA), mengatakan komunitasnya bersama PT. Pembangkit Jawa-Bali UP Muara Karang tidak hanya sekadar melakukan kegiatan penanaman, tetapi juga menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mengoptimalkan manfaat ekosistem mangrove tersebut.

Program yang dilakukan meliputi pendidikan mangrove kepada murid sekolah dasar, pelatihan perawatan tanaman mangrove, pelatihan pengolahan buah pidada menjadi produk komersil, hingga pembuatan tambak silvofishery untuk para nelayan.

"Jadi olahan dari pohon mangrove jenis pidada itu dapat dimanfaatkan menjadi dodol, selai, dan jus. Selama masa paceklik saat tidak bisa melaut, mereka bisa aktif mengolah buah pidada sebagai ketiga produk pangan tersebut. Ini juga membantu masyarakat dalam perekonomian,"ucapnya.

Ia menyebut produk olahan itu bisa dijual dipasaran mulai Rp. 20.000 sampai Rp. 50.000.

"Saat ini pemasaran masih di sekitar area kampung nelayan. Diharapkan dukungan pemerintah setempat untuk pemasaran produknya,"tuturnya.

Sementara Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Junaedi mengatakan, pengolahan buah mangrove menjadi dodol, selai dan jus merupakan terobosan. Sehingga keberadaan mangrove bisa dimaksimalkan tidak hanya berguna bagi lingkungan hidup namun juga perekonomian.

"Kita harus dukung. Produk ini bisa jadi khas Jakarta Utara, karena kalau daerah lain di Jakarta tidak ada," katanya.

Dikatakan Junaedi, kekhasan produk itulah yang menurutnya layak untuk masuk pasar modern. Apalagi, rasa dari ketiga produk olahan itu cukup baik.

"Kita akan undang para pengusaha hotel dan restauran untuk menampung. Produk ini juga bagian dari pemberdayaan," ujarnya.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help