Penjelasan Kenapa Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis Kurang Disukai Dari Pada Hemodialisis

Salah satu respon paling signifikan dari pemberlakuan itu adalah berkembangnya klinik hemodialisis di seluruh Indonesia.

Penjelasan Kenapa Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis Kurang Disukai Dari Pada Hemodialisis
Kompas.com
Shutterstock/Ilustrasi cuci darah. 

WARTA KOTA, PALMERAH---Mengapa terapi komplikasi penyakit ginjal kronik (PGK) continous ambulatory peritoneal dialysis kurang disukai dari pada hemodialisis (HD)?

Prof Budi Hidayat MKM MPPM Phd, Ketua Pusat Kajian Studi Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM Universitas Indonesia, melihat fenomena terapi dialisis sejak program BPJS Kesehatan dijalankan tahun 2014.

Baca: Di Indonesia Baru 2 Persen Pasien Gagal Ginjal Menggunakan Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis

Salah satu respon paling signifikan dari pemberlakuan itu adalah berkembangnya klinik hemodialisis di seluruh Indonesia.

"Dapat diduga praktik hemodialisis ini memang sangat menguntungkan bagi provider atau klinik atau rumah sakit penyedia layanan HD (hemodialisis)," kata Budi beberapa waktu lalu.

Guru besar FKM UI itu menguraikan hal itu berdasarkan teori.

Baca: Jumlah Pasien Cuci Darah Melonjak

Pertama, dalam dunia pelayanan kesehatan, provider atau rumah sakit atau pemilik klinik adalah agen yang menjadi penasihat sekaligus menyediakan jasa kepada pasien.

Ketika pasien PGK datang ke rumah sakit dan tidak berbekal informasi tentang penyakitnya, maka terapi yang akan dia jalani sangat tergantung nasihat provider.

Kedua, ketika suplier alat kesehatan hadir di pasar, mereka memiliki target keuntungan.

Hampir 90 persen klaim biaya hemodialisis , kata Budi, akan masuk ke faskes yang menyediakan layanan hemodialisis.

Baca: Korban Arak Methanol Harus Cuci Darah

Budi mengatakan, meski ditanggung BPJS Kesehatan, klaim untuk CAPD belum masuk INA-CBG's seperti hemodialisis, tetapi dengan klaim terpisah.

Maka jika ingin menaikkan cakupan CAPD, tidak mungkin tanpa melakukan intervensi sistem insentif yaitu bagaimana supaya CAPD masuk ke skema pembayaran.

"Kesimpulannya, jika ingin meningkatkan pemakaian CAPD maka dibutuhkan intervensi radikal, yaitu mengubah sistem insentif dan mengubah sistem pembayaran sehingga rumah sakit mau beralih dari hemodialisis ke CAPD," kata Budi.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved