Mahasiswi Korban Pelecehan di Sunter Kerap Diperiksa Polisi, tapi Pelaku Masih Berkeliaran

Jaya memaparkan, tindakan tersebut harus segera dilakukan, supaya menghindarkan terjadinya korban lain dari para predator seks.

Mahasiswi Korban Pelecehan di Sunter Kerap Diperiksa Polisi, tapi Pelaku Masih Berkeliaran
Kompas.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, KOJA - Mahasiswi berinisial S (21) yang menjadi korban pelecehan di kawasan Hotel Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, menginginkan TK, pelaku yang dikenalnya melalui aplikasi media sosial Tinder, segera ditangkap.

Pada Jumat (16/3/2018) pekan lalu, S kembali menjalani pemeriksaan lanjutan di Polres Metro Jakarta Utara sebagai korban. Sedangkan pelaku yang mencekokinya dengan sake hingga tidak sadarkan diri, masih bebas berkeliaran.

“Kemarin (pemeriksaan) untuk melengkapi keterangan-keterangan saya waktu terjadinya apa yang dialami. Saya sudah berkali-kali diperiksa, dan saya minta pelaku ditangkap dan diadili,” ucap korban, Jumat (23/3/2018).

Baca: Susi Pudjiastuti: Kalau Masyarakat Makan Ikan, Bangsa Indonesia akan Ditakuti Negara Lain

Pakar Hukum Pidana Universitas Parahyangan M Jaya menegaskan, aparat kepolisian harus mengusut tuntas kasus tersebut, agar pelaku segera ditahan dan diadili. Apalagi, pelaku masih berkeliaran bebas.

Hal itu berdasarkan pasal 1 KUHAP ayat 26, yang berisi bahwa saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang dia dengar sendiri, dia lihat sendiri, dan dia alami sendiri.

Sedangkan pasal 184 ayat 1 KUHAP berbunyi, 'alat bukti sah adalah keterangan saksi, ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.'

Baca: Ganjar Pranowo Bantah Terima Uang Korupsi KTP Elektronik, Setya Novanto Bilang Begini

“Dengan demikian, minimum tiga alat bukti sudah tersedia, keterangan saksi, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Dengan adanya alat bukti tersebut, polisi harus segera menangkap, menahan, sampai dengan memproses perkara ini di muka persidangan,” paparnya.

Jaya memaparkan, tindakan tersebut harus segera dilakukan, supaya menghindarkan terjadinya korban lain dari para predator seks. Karena, pelaku seperti ini cenderung memberikan keterangan bohong dan menyesatkan,

Sebelumnya, S melaporkan kejadian yang dialami dengan nomor Laporan Polisi (LP) Nomor TBL/1126/K/IX/2017/PJ/RESJU Polres Jakarta Utara pada 25 September 2017. Namun, korban bersama penasihat hukumnya melayangkan surat perlindungan hukum ke Polda Metro Jaya karena merasa kasusnya belum ditanggapi. (*)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help