Ruang Terbuka Minim Picu Permainan Tradisional Cepat Punah

Sejumlah anak berkumpul di depan Kelurahan Kebon Melati bukan bermain permainan tradisional, tetapi bermain Free Fire dari ponsel masing-masing.

Ruang Terbuka Minim Picu Permainan Tradisional Cepat Punah
Dok. Pribadi
PEMUKIMAN Warga RT 12/01 Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur tampak dari atas. Padatnya pemukiman warga membatasi anak bermain di luar ruangan yang berujung pada semakin hilangnya permainan tradisional saat ini. 

WARTA KOTA, MAKASAR --- Pemicu utama perubahan pola bermain anak yang kini lebih banyak menghabiskan waktu bermain gadget ketimbang di luar ruangan disebutkan sejumlah pakar adalah kurangnya ruang terbuka di lingkungan rumah. Kondisi tersebut memaksakan anak bermain di dunia maya alias via gadget, mengabaikan lingkungannya.

"Di Kota Jakarta pun permainan tradisional anak bisa dibilang nyaris punah, karena memang lahan bermain kurang," ungkap Anggia Ermarini, Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat Nahdatul Ulama (NU) sesaat meresmikan Gerakan Nasional Jam Bermain Anak di Hotel Pullman, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (21/3/2018).

Baca: Ortu Tak Ajak Bermain, Anak Lampiaskan Hasrat Bermain via Gadget

Terkait pernyataan tersebut Warta Kota menyambangi beberapa wilayah padat penduduk di Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (21/3/2018). Lingkungan rumah yang hanya berupa gang-gang sempit serta jalan padat kendaraan menuju Pasar Tanah Abang, memaksa sejumlah anak-anak berkumpul di depan Kelurahan Kebon Melati.

Akan tetapi, bukan berkumpul bersama layaknya bermain permainan tradisional seperti petak umpet atau lainnya, mereka justru tergabung dalam sebuah permainan multiplayer lewat ponsel yang digenggamnya masing-masing.

"Lagi maen Free Fire (game arcade) om, perang nih kita," celoteh Ruli (7) sembari terus memerintah beberapa temannya untuk menyerang lawan dalam permainan.

Lebih Aman di dalam Rumah

Bergeser jauh dari pusat kota, Warta Kota berkeliling di wilayah Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur. Walau secara demografi kawasan Pinang Ranti tidak sepadat kawasan Kebon Melati, kawasan yang berbatasan dengan Pondok Gede, Bekasi itu terlihat minim ruang terbuka.

Anak-anak terlihat main di dalam gang ataupun tengah jalan, sementara jalan disesaki parkir mobil liar warga serta ramainya lalulalang pengendara sepeda motor. Kondisi tersebut pun memaksa Eri (32) warga RT 12/01 Pinang Ranti merelakan anaknya bermain ponsel di dalam rumah, karena dinilainya lebih aman dibandingkan bermain di jalan.

Baca: Nyaris Punah, Permainan Tradisional yang Dekatkan Ortu dan Anak

"Ketimbang di jalan, motor kenceng-kenceng banget. Bahaya, sering anak keserempet, padahal udah dipasangin poldur (polisi tidur/speed trap). Kalau ditanya permintaan, ya kalau bisa dibangun taman di daerah sini, supaya anak-anak bisa main aman," ungkapnya.

Bermain lompat tali, klereng, petak umpet ataupun galaksi kini menjadi hal asing bagi anak-anak milenial. Mereka kini lebih memilih duduk bersandar di atas sofa, menikmati permainan lewat ponsel atau video game di dalam rumah.

Kenyataan pahit yang umumnya ditemui anak di Ibukota itu menurut Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi dipicu beragam faktor, antara lain kurangnya lahan bermain, perhatian orangtua yang rendah hingga kebiasaan orangtua yang kini asyik bermain ponsel dibanding menemani anak mendongeng.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved