Jumlah Pasien Perempuan Melakukan Cuci Darah Masih Lebih Sedikit

Pasien PGK yang menjalani dialisis di Indonesia, sebanyak 43,6 persennya perempuan. Sisanya laki-laki.

Jumlah Pasien Perempuan Melakukan Cuci Darah Masih Lebih Sedikit
Kompas.com
Shutterstock/Ilustrasi cuci darah. 

WARTA KOTA, PALMERAH---Meski perempuan sedikit lebih rentan terkena penyakit ginjal kronik (PGK) dibandingkan laki-laki, sayangnya, jumlah pasien perempuan yang melakukan dialisis atau cuci darah masih lebih sedikit.

Dokter Aida Lydia PhD SpPD KGH, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), mengatakan, pasien PGK yang menjalani dialisis di Indonesia, sebanyak 43,6 persennya perempuan. Sisanya laki-laki.

Faktor penyebabnya antara lain karena perjalanan penyakit yang lebih lambat, ditambah rendahnya kesadaran akan penyakit ginjal sehingga mengakibatkan keterlambatan atau tidak dimulainya dialisis.

Baca: 1 dari 3 Perempuan Mengalami Gangguan Saluran Kemih, Infeksi Berulang Berisiko Kena PGK

Berbeda dari penyakit lainnya, kata Aida, penyakit ginjal memang tak bergejala khas sehingga penanganannya sangat mungkin terlambat.

Sebagian besar penderita gagal ginjal tidak menunjukkan gejala sampai mereka kehilangan fungsi ginjalnya sebanyak 90 persen.

Baca: Sebanyak 195 Juta Perempuan di Seluruh Dunia Menderita Penyakit Ginjal Kronik

Namun, ada sejumlah tanda yang dicurigai antara lain tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urin, mual, muntah dan bengkak terutama pada kaki dan pergelangan kaki.

"Deteksi dini amat penting. Sebagian besar orang tak mengeluhkan, biasanya keluhan timbul saat fungsi ginjalnya sudah terganggu," kata Aida baru-baru ini.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help