Tradisi Mbed-mbedan di Bali Libatkan Ibu-ibu

Tradisi tahunan itu diawali dengan persembahyangan bersama warga setempat untuk memohon keselamatan dan dilanjutkan dengan "mbed-mbedan"

Tradisi Mbed-mbedan di Bali Libatkan Ibu-ibu
Sejumlah ibu-ibu menarik tali dalam rangkaian Tradisi Mbed-Mbedan di Pura Puseh Desa Adat Semate, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (18/3/2018). Tradisi unik serupa tarik tambang dengan pakaian adat itu dilakukan setelah melakukan sembahyang usai Hari Raya Nyepi untuk memupuk persaudaraan sekaligus mohon keselamatan dan anugerah dari Tuhan. (ANTARA FOTO/Wira Suryantala) 

WARTA KOTA, BADUNG -- Puluhan ibu di Desa Adat Semate, Kabupaten Badung, ikut ambil bagian dalam pelaksanaan tradisi "mbed-mbedan" untuk memupuk persaudaraan sekaligus mohon keselamatan dan anugrah dari Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Di sela persembahyangan dalam rangkaian kegiatan "mbed-mbedan" di depan Pura Puseh Desa Adat Semate Minggu (18/3), Bandesa Adat Semate I Gede Suryadi menjelaskan tradisi tersebut digelar setiap tahun sekali pada Hari Ngembak Geni, sehari setelah Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1940.

Tradisi tahunan itu diawali dengan persembahyangan bersama warga setempat untuk memohon keselamatan dan dilanjutkan dengan "mbed-mbedan", semacam tarik tambang, dengan peserta berpakaian adat Bali.

Semua warga Desa Adat Semate wajib ikut serta dalam tradisi itu, tua, muda, pria maupun perempuan, semua ikut, tidak ada yang tertinggal.

Gede Suryadi menambahkan bahwa dalam sastra Raja Purana, Tradisi Mbed-Mbedan merupakan perayaan untuk menghormati "bhisama Rsi Mpu Bantas" dalam suatu pengambilan keputusan yang melibatkan saling tarik ulur dalam suatu musyawarah di Desa Adat Semate.

"Tradisi ini diadakan pertama kali sekitar tahun saka 1396 atau 1474 masehi pada saat pemlaspasan (peresmian) berdirinya Pura Kahyangan Tiga di Desa Adat Semate," tuturnya.

Tradisi itu sempat ditiadakan selama bertahun-tahun dan baru mulai dilaksanakan kembali pada 2011 berdasarkan pinanggal Bali. Perayaan "Mbed-Mbedan" di depan Pura Desa Puseh dimeriahkan dengan iringan musik tradisional Bali, gong Baleganjur, yang dibawakan sekaa gong anak-anak desa adat setempat.

Sedangkan tali yang digunakan dalam "mbed-mbedan" adalah "bun kalot", sejenis tanaman merambat yang tumbuh di kuburan (setra) Desa Adat Semate.

Perayaan yang juga ditujukan untuk merekatkan tali persaudaraan sesama warga (krama) itu juga mencakup acara makan tipat bantal bersama sebagai simbul purusa pradana (laki-laki dan perempuan) serta diakhiri dengan saling maaf memaafkan antarwarga.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help