10 Tahun Usai Tumpukan Sampah di Muara Angke Jadi Hutan Mangrove

Istri nelayan mengolah buah mangrove menjadi dodol, para pemuda memanen ikan di kolam budidaya di tengah hutan. Indahnya Muara Angke hari ini.

10 Tahun Usai Tumpukan Sampah di Muara Angke Jadi Hutan Mangrove
KOMPAS.COM/Ardito Ramadhan D
Anak-anak yang mengunjungi Hutan Mangrove Ecomarine di Muara Karang, Jakarta Utara. 

WARTA KOTA, MUARAANGKE -- Istri nelayan mengolah buah mangrove menjadi dodol, para pemuda memanen ikan di kolam budidaya di tengah hutan, dan anak-anak kecil mengakses rumah edukasi.

Begitulah kehidupan warga kampung kumuh nelayan di Muara Angke pada tahun ke-10 hutan Mangrove Ecomarine berdiri.

Ketua Komunitas Mangrove Muara Angke, Risnandar, mengatakan Hutan Mangrove Ecomarine telah berkembang jauh di atas ekspetasi para inisiatornya.

Hutan mangrove lebat seluas 1,5 hektar itu kini mulai memberi dampak ekonomi terhadap warga di kampung nelayan setelah jadi destinasi wisata alternatif. 

"Olahan buah mangrove itu ada dodol, selai, sirup. Alhmdulillah untuk produk olahan buah mangrove ini sudah bagus, sudah keluar izin PIRT (Pangan Industi Rumah Tangga) dan halalnya sudah ada," kata Risnandar.

Dengan 27.000 pohon mangrove disana, olahan buah mangrove bisa diproduksi setiap hari oleh ibu-ibu istri nelayan

Sedangkan kolam budidaya ikan yang terletak di tengah hutan juga rajin menghasilkan ikan gurame dan nila. Hasilnya dijual ke pasar ikan Muara Angke

Baca: 18 Siswa Madrasah Diajak Nginap di Sydney 4 Hari Sama Jokowi

Baca: Auditor BPK Dipecat, Dipenjara 7 Tahun, dan Tak Dapat Pensiun, KPK Bilang Kurang Lama

"Saya awalnya tak bermimpi kita punya rumah edukasi, punya pohon mangrove sebanyak ini, enggak bermimpi sama sekali," kata Risnandar.

Halaman
123
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help