Pemberitaan Rockmelon Dinilai Kurang Bijaksana Membuat Masyarakat Salah Kaprah

Wahyu mengatakan pemberitaan Rockmelon ini hanya membuat masyarakat cemas dan pedagang merugi.

Pemberitaan Rockmelon Dinilai Kurang Bijaksana Membuat Masyarakat Salah Kaprah
Warta Kota/Anggie Lianda Putri
Seorang pemasok buah melon, Wahyudi, di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (12/3/2018). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Anggie Lianda

WARTA KOTA, KRAMAT JATI - Para pedagang buah khususnya melon di Pasar Induk Kramatjati menilai pemberitaan mengenai Rockmelon yang berbahaya dirasa tidak bijaksana.

"Saya rasa kurang bijaksana karena tidak pada tempatnya, itukan kasus di Australia tapi beritanya disebarkan di Indonesia," ujar seorang pemasok, Wahyudi di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (12/3/2018).

Wahyu mengatakan pemberitaan Rockmelon ini hanya membuat masyarakat cemas dan pedagang merugi.

"Kalau yang bijaksana, jenisnya disebutkan, lokasi kejadiannya dan kronologisnya dijelaskan mendetail sehingga masyarakat enggak salah kaprah," papar Wahyudi.

Ia juga menyayangkan masyarakat kurang paham dan langsung menjauhi buah melon terutama yang berwarna oren.

Terlebih ada pemberitaan di televisi yang mengimbau kepada masyarakat untuk waspada jangan sampai membeli atau mengkonsumsi buah melon dalam waktu dekat, bahkan membuangnya jika ada di lemari pendingin.

"Statement seperti itu kan enggak bijaksana, ngawur namanya. Ngasih statement enggak mikirin orang lain, jelas-jelas itu bukan di Indonesia, kalau begini kita (para pedagang) enggak bisa berbuat apa-apa," ungkapnya.

Ia memohon kepada media dan pemerintah jangan menakut-nakuti masyarakat dengan isu yang terus di gembar-gemborkan tanpa memikirkan dampaknya terhadap petani dan penjual buah melon di pasaran.

"Kasian kami (para pedagang), melon sampai matang bahkan sampai busuk enggak ada yang beli. Sedangkan saya harus tetap gaji karyawan full," keluh Wahyudi.

Ia menjamin melon yang dijual asli dari perkebunan Indonesia seperti Ponorogo, Banyuwangi dan Situbondo serta tidak berbahaya karena jenisnya pun berbeda dari Rockmelon.

Sudah sepekan, tidak ada orang yang berbelanja, padahal Wahyudi hanya mengandalkan hasil dari penjualan di pasar ini saja. Bahkan uang makan untuk pegawainya saja tidak mencukupi.

"Jadi saya keluarin uang ekstra buat pegawai, padahal seminggu ini hanya santai nunggu pelanggan. Tapi saya enggak bisa salahkan mereka, karena memang begini keadaannya, kami jadi pontang-panting sekarang," ungkap Wahyudi.

"Semoga saja, sebelum puasa berita yang menghebohkan masyarakat dan merugikan pedagang bisa segera teratasi dan kembali normal," tutupnya. (M16)

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved