Artis Terjerat Narkoba

Pretty Asmara Masih Merasa Tidak Bersalah dan Dijebak

Kuasa hukum Pretty, Rohman Hidayat menjelaskan, kliennya menganggap putusan majelis hakim sangat berat.

Pretty Asmara Masih Merasa Tidak Bersalah dan Dijebak
Warta Kota/Arie Puji Waluyo
PRETTY Asmara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (18/12/2017). 

WARTA KOTA, PALMERAH - Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Pretty Asmara dengan hukuman enam tahun penjara dan denda Rp 1 miliar, subsider tiga bulan kurungan.

Vonis hakim tersebut berlangsung saat persidangan dengan agenda putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Gunung Sahari, Kamis (8/3/2018).

Kuasa hukum Pretty, Rohman Hidayat menjelaskan, kliennya menganggap putusan majelis hakim sangat berat.

Baca: Divonis Enam Tahun Penjara dan Denda Rp 1 Miliar, Pretty Asmara Shock

Ia juga mengungkapkan Pretty menangis di dalam ruang sidang, usai mendengar putusan majelis hakim, karena wanita bertubuh gemuk itu merasa tidak bersalah dan dijebak.

"Pastinya berat ya putusan majelis hakim, karena Pretty juga adalah korban penjebakan," kata Rohman Hidayat ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (9/3/2018).

Menurut Rohman, yang memberatkan putusan terhadap Pretty adalah UU Narkotika, dan program pemerintah yang sedang memberantas narkotika.

Baca: Divonis Enam Tahun Penjara, Pretty Asmara Masih Pikir-pikir

"Yang memberatkan ya mungkin Pretty tidak mendukung program pemerintah memberantas narkoba. Itu aja. Tidak ada yang istimewa sih," ungkapnya.

Selain itu, menurut Rohman, yang memberatkan putusan adalah dalam berita persidangan, Pretty dengan mudah menerima tawaran oleh Alvin, untuk membuat pesta.

"Dalam persidangan kemarin ada bukti bahwa Pretty dikasih kerjaan oleh Alvin, kemudian Alvin mengiming-imingi Pretty kalau kerjaan (bikin pesta ultah) sukses, akan dikasih kerjaan dengan nilai Rp 1 miliar. Itu fakta persidangan bilang begitu," paparnya.

Baca: Dikira Suara Kucing, Ternyata Bayi yang Menggigil

Rohman menambaakan, pihaknya keberatan, karena putusan hakim tidak sepadan dengan JPU, yang tidak memasukkan berita persidangan dalam dakwaannya.

"Berita persidangan tidak dimunculkan dalam dakwaan jaksa. Makanya kami munculkan ketika kami dikasih kesempatan untuk pembelaan diri," papar Rohman Hidayat. (*)

Penulis: Arie Puji Waluyo
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved