Home »

News

» Jakarta

Dit Polair Polda Metro Jaya Tangkap Pelaku Pemalsuan SKK Nelayan

Direktorat Polisi Air Polda Metro Jaya menangkap pembuay surat keterangan kecakapan (SKK) palsu.

Dit Polair Polda Metro Jaya Tangkap Pelaku Pemalsuan SKK Nelayan
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Barang bukti SKK palsu. 

WARTA KOTA, TANJUNG PRIOK---Direktorat Polisi Air Polda Metro Jaya menangkap pembuay surat keterangan kecakapan (SKK) palsu.

SKK merupakan tanda bukti seorang nelayan bisa melaut dan menjalankan kapal.

Mereka adalah Handoyo yang berperan sebagai pembuat SKK palsu, R dan S sebagai perantara serta K dan P yang sebagai pengguna jasa tersebut.

Pengungkapan itu bermula dari laporan banyaknya SKK nelayan di sekitar Muara Angke yang palsu.

“Setelah koordinasi dengan Satrolda untuk mengecek salah seorang nelayan, ternyata SKK-nya palsu. Nama pemegang SKK tidak terdaftar di Ditjen Hubla,” kata Kasubdit Gakum Ditpolair Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Jefri RP Siagian, Kamis (1/3/2018).

Setelah penangkapan kepala kamar mesin berinisial P dan nahkoda berinisial K kapal KM Margono pada Rabu (21/2/2018), polisi kemudian menangkap tersangka lainya, Handoyo yang merupakan pencetak SKK palsu.

“Sebelum Handoyo ditangkap di Jakarta Timur, ada juga pelaku lainnya yang ditangkap yakni R dan S. Mereka ini merupakan calo yang menghubungkan para nelayan dengan pembuat SKK palsu,” katanya.

Baca: Sempat Terkendala Penerjemah, WN Norwegia Akhirnya Didakwa Kasus Pemalsuan

Berdasarkan keterangan kepada penyidik, Handoyo sudah melakoni aksinya tersebut sejak tahun 2016 silam dan sudah ada 300 SKK palsu yang diterbitkan bermodalkan cetakan printer.

“Setiap SKK palsu dipatok Rp 400.000 oleh Handoyo. Tapi lewat tangan calo, harganya bisa Rp 600.000. Padahal untuk SKK asli yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya Rp 100.000. Kalau dilihat bentuk fisiknya, SKK palsu enggak ada hologramnya,” katanya.

Menurut Jefri, idealnya nahkoda dan kepala mesin wajib mempunyai SKK. Namun karena ada peraturan baru yang mengharuskan pemegang SKK lulusan SMP, membuat nelayan yang kebanyakan buta huruf dan hanya lulus SD memilih jalan pintas.

“Mereka ini awalnya ABK yang sudah lama melaut dan mau naik jabatan jadi nahkoda atau kepala mesin. Mereka mencari celah agar bisa melaut karena tidak memenuhi kualifikasi,” kata Jefri.

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help