Berkat Ilmu dari Bule Belanda, Sapi Perah Pasuruan Happy dan Susu Melimpah

"Saya dimentorin orang Belanda, namanya Mr Soed, yang ngajarin saya buat kandang agar sirkulasi udaranya bagus dan juga buat pakan berbiaya murah.."

Berkat Ilmu dari Bule Belanda, Sapi Perah Pasuruan Happy dan Susu Melimpah
m16/Anggie Lianda
YUDI Purwanto, warga Desa Watulumbung, Lumbang, Pasuruan, Jawa Timur bersama ternak sapi perahnya, Rabu (28/2/2018). Ia berhasil sebagai peternak sapi perah setelah mendapat pelatihan dari Mr Soed asal Belanda dalam program Farmer2Farmer (F2F) dari PT Frisian Flag Indonesia (FFI). 

WARTA KOTA, PASURUAN -- Yudi Purwanto (31), peternak sapi perah asal Pasuruan, Jawa Timur mengakui bahwa program Farmer2Farmer (F2F) telah membantu meningkatkan usaha peternakan sapi perahnya.

Awalnya Yudi hanya memiliki satu ekor sapi pemberian dari orang tuanya, itupun ia merasa kesulitan untuk memeliharanya.

Tahun 2014 bersama 17 tetangganya di Desa Watulumbung, Lumbang, Pasuruan, Jawa Timur, Yudi mencoba ikut program F2F dari PT Frisian Flag Indonesia (FFI).

Saat itu ia dilatih oleh instruktur asal Belanda. Ternyata banyak terjadi kesalahan dan ketidaktahuan Yudi mengenai ternak sapi perah.

Mulai dari kandang yang tidak ada sirkulasi udara, tempat makan hewan yang terlalu tinggi, hingga pemberian pakan yang salah menyebabkan biaya terlalu banyak keluar.

"Saya dimentorin oleh orang Belanda, namanya Mr. Soed yang ngajarin saya buat kandang agar sirkulasi udaranya bagus sampai membuat pakan yang ngga butuh uang banyak," ujar Yudi tentang bule Belanda itu, ketika ditemui di Desa Watulumbung, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (28/2/2018).

Awalnya Yudi cukup enggan untuk mengubah kebiasaan dan rutinitas sehari-hari dalam beternak. Namun FFI dan peternak Belanda terus mendorongnya untuk mulai menerapkan praktik peternakan sapi perah yang baik dan menguntungkan.

"Dulu saya gotong air tiap hari untuk minum sapi, capek. Tapi sekarang sudah dibuatkan tempat yang airnya bisa isi sendiri," ujar Yudi.

Semenjak mengikuti program F2F ini, Yudi mengaku produksi susu naik, tingkat kebuntingan sapi menjadi cepat dan pengeluaran menjadi minim.

Sebelumnya satu sapi hanya memproduksi lima dan paling banyak sembilan liter perhari. Saat ini bisa menghasilkan 15 liter perhari.

Dulu untuk membuat sapi bunting atau hamil, Yudi memberikan Inseminasi Buatan (IB) hingga enam kali namun tidak pernah berhasil, saat ini cukup sekali IB, sapi perah miliknya bisa bunting. Bahkan pengeluarannya kini bisa sangat minim karena polanya diubah.

"Berkat orang belanda yang ngasih tau kalau saya harus mengurangi ampas ketela pohon. Selain itu, rumput harus lebih banyak agar sapi happy dan biaya berkurang. Rumput 60 persen dan lainnya 40 persen saja, dulu saya terbalik jadi duit banyak keluar," paparnya.

Saat ini Yudi sudah memiliki lima ekor sapi dan dua ekor yang sedang bunting semenjak pola beternaknya diubah.

Yudi menjual susu sapi perahnya ke KUTT Suka Makmur dengan harga Rp 5.000 per liter dan bisa mendapat keuntungan bersih Rp 750.000 persepuluh hari dari tiga sapi perahnya. (M16)

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help