BNN Ungkap Kasus TPPU Senilai Rp6,4 Triliun dari Jaringan Terpidana Mati

BNN mengungkapkan kasus Tindak Pidana Pencucian Uang sebesar kurang lebih Rp 6,4 triliun yang bersumber dari kasus narkotika jaringan Togiman

BNN Ungkap Kasus TPPU Senilai Rp6,4 Triliun dari Jaringan Terpidana Mati
Warta Kota/Joko Supriyanto
BNN saat rilis pengungkapan kasus TPPU senilai Rp6,4 triliun dari jaringan terpidana mati. 

WARTA KOTA, CAWANG -- Badan Narkotika Nasional (BNN), PPATK, OJK dan Bank Indonesia memberikan hasil keterangan dari pengungkapan kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sebesar kurang lebih Rp 6,4 triliun yang bersumber dari kasus narkotika jaringan Togiman, Haryanto Candra.

Deputi Pemberantasan Bada Narkotika Nasional Irjen Pol Arman Depari mengatakan dari hasil penyidikan dan penyelidikan bahwa kejahatan TPPU tersebut sudah berjalan lama, hal tersebut berdasarkan aset-aset yang disita.

Tak hanya itu pengungkapan TPPU ini hasil dari peredaran narkotika yang sudah berjalan sejak 2014 lalu.

"Tiga tersangka ditangkap, Devy Yiliana, Hendi Romli dan Frendi Heronusa, ketiganya ditangkap di Jakarta," kata Irjen Pol Arman, Rabu (28/2/2018).

Dari ketiga tersangka tersebut otak utama dalam kasus ini adalah DY. Arman menyebut bahwa modus operadi yang digunakan seolah-olah menjadi importir dari sejumlah barang diluar negeri dan kemudian mereka memasukan invoise pembayaran diluar negeri.

Arman menambahkan jika ketiga tersangka ini juga terlibat dalam satu jaringan terpidana mati yang sebelumnya sudah ditangkap oleh BNN yaitu Togiman dan Freddy Budiman.

"Kasus yang kita tangani ini tidak berdiri sendiri tapi juga terlibat beberapa kasus beberapa waktu lalu Ponny Chandra Alias Toge dan sindikat jaringan Almarhum Freddy Budiman," katanya.

Dari hasil pemeriksaan terhadap DY. la diketahui memiliki sedikitnya enam perusahaan fiktif yang digunakan untuk transaksi keuangan dari beberapa bandar narkotika DY menggunakan beberapa rekening atas nama karyawannya sejumlah rekening atas nama karyawannya dibuat di bank dalam dan luar negeri.

Dalam periode tahun 2014-2016. PT PSS (salah satu perusahaan fiktif milik DY) mengirimkan dana ke luar negeri sebesar kurang lebih Rp 6,4 triliun dengan 2136 invoice fiktif.

Adapun pengiriman dana tersebut melalui sejumlah bank.

Selain itu BNN menyita sejumlah barang bukti yakni 3 unit apartemen, 5 unit ruko, 1 unit rumah, 3 unit mobil, 2 unit toko dan sebidang tanah di Jakarta Selatan.

Atas perbuatannya, ketiga tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan danPemberantasan Tindak Pencucian Pencucian Uang

"UU narkotiknya sendiri mereka terancam hukuman mati, dan untuk TPPU mereka terancam 20 tahun penjara," ucap Arman. (JOS)

Penulis: Joko Supriyanto
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved