Napi Rajin Menulis Diusulkan Diberi Remisi, Ini Alasannya

"Di Brazil dan Itali, Napi yang baca buku setebal 400 halaman dapat remisi minimal empat hari..."

Napi Rajin Menulis Diusulkan Diberi Remisi, Ini Alasannya
Arswendo Atmowiloto ditemui dalam jumpa pers film Keluarga Cemara di Kinosaurus, Kemang, Jakarta Selatan. (Foto: Kompas.com) 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Budayawan Arswendo Atmowiloto mengusulkan agar nara pidana (Napi) yang rajin membaca dan menulis buku selama di lapas sebaiknya diberikan remisi.

Hal itu dikatakan Arswendo ketika jadi pemateri pada acara aksi literasi menuju remisi di Aula Lapas Maros, Sulawesi Selatan, yang dirilis Ditjen Pemasyarakatan (PAS) Kementerian Hukum dan HAM, Sabtu (24/2).

Menurut Arswendo, tempat terbaik untuk jadi pengarang itu adalah di dalam Lapas, karena keberagaman Napi dari berbagai latar belakang dapat dijadikan tokoh menarik, kemudian ada konflik dan ada keunikan materi.

Budayawan ini menilai tulisan ini bisa menjadi cerita di Lapas pasti menarik.

Dia juga mengatakan literasi di Lapas itu memberi kesempatan berprestasi bagi warga binaan, dan dirinya setuju jika hal seperti ini diberikan remisi.

Menurut Arswendo, untuk jadi penulis buku di Lapas itu tidak perlu nama besar, karena tulisannya di media selama saat dirinya jadi Napi di Lapas.

Arswendo mengaku menulis degan memakai nama samaran, dan ada sekitar 20 buku yang dibuat selama dia menjalani pidana di rutan Salemba Jakarta 28 tahun lalu.

Direktur pembinaan Napi, Latihan Kerja dan Produksi Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham Harun Sulianto, ketika membuka acara, mengatakan akan mengajak para akademisi, praktisi dan pihak terkait lainnya untuk mengkaji kemungkinan literasi dikaitkan dg remisi.

"Di Brazil dan Itali, Napi yang baca buku setebal 400 halaman dapat remisi minimal empat hari, dan jika baca 12 buku setahun dapat remisi hingga 48 hari, ini akan jadi referensi kita untuk buat kajian" kata Harun.

Literasi di Lapas, menurut Harun, adalah keterampilan kognitif untuk membaca, menulis, berbicara, sehingga warga binaan mampu mengubah budaya hidupnya jadi produktif, selama maupun setelah menjalani pidana.

"Kehadiran pustaka bergerak yang membentuk pustakawan jeruji, perpustakaan nasional, kelompok kompas Gramedia, PT Pos Indonesia dan para relawan diharapkan akan banyak warga binaan jadi penulis produktif, yang bisa menyaingi mas Arswendo," kata harun

Acara bertajuk aksi literasi menuju remisi, dari Maros untuk Indonesia diprakarasai oleh Yayasan Kerja bersama untuk Semesta (Yakabus) menghadirkan narasumber Kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando, Anggota DPRD Sulsel Irfan AB, Akademisi Alwi Rachman dan jurnalis Imhe Mawar, diikuti kalapas dan karutan Sulselbar, perwakilan wargabinaan dan relawan literasi.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help