Ini Alasan Dinas Sosial Tidak Ciduk Pengemis di Wihara dan Kelenteng Saat Imlek

Kehadiran ratusan pengemis di kelenteng atau wihara saat perayaan Tahun Baru Imlek, menjadi pemandangan umum sejak lama.

Ini Alasan Dinas Sosial Tidak Ciduk Pengemis di Wihara dan Kelenteng Saat Imlek
Warta Kota/Henry Lopulalan
Ratusan orang pengemis berkumpul menunggu pembagian uang di halaman Vihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Jakarta Barat, Jumat (16/2/2018). 

WARTA KOTA, SENEN - Kehadiran ratusan pengemis di kelenteng atau wihara saat perayaan Tahun Baru Imlek, menjadi pemandangan umum sejak lama.

Mereka datang dari sejumlah wilayah luar DKI Jakarta, untuk menuai iba dari warga keturunan Tionghoa yang mengharap berkah.

Fenomena yang terjadi setiap tahun tersebut, kata Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta Chaidir, menjadi perhatian pihaknya.

Baca: Oesman Sapta Odang: Kalau Kita Bayar LSI, Survei Kita Besar

Penjagaan dilakukan di sejumlah wihara atau klenteng ibu kota, untuk mengantisipasi menyebarnya Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) ke sejumlah wilayah DKI Jakarta.

Seperti penyiagaan Petugas Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial (P3S) Sudin Sosial Jakarta Utara di titik rawan, antara lain Wihara Satya Dharma yang berlokasi di Jalan Pluit, Muara Karang; Wihara Avalokitesvera Vipassana Graha di Jalan Bisma Tengah Blok C Sunter Podomoro; Wihara Lalitavistara di Jalan Cilincing Lama; serta Wihara Bahtera Bakti Ancol di Pademangan, Jakarta Utara.

Serupa, petugas P3S Sudin Sosial Jakarta Barat dan Jakarta Selatan pun melakukan pengawasan di kompleks wihara Glodok Jalan Petak Sembilan, Taman Sari, Jakarta Barat, ataupun Vihara Bio Hok Tek Tjeng Sin di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Baca: Permenhub 108 Ditolak Driver Taksi Online, Budi Karya Sumadi: Saya Bisa Pertanggungjawabkan Semuanya

"Karena sudah menjadi budaya sejak lama, pengelola wihara biasanya memberikan sembako atau angpau kepada warga sekitar, sehingga banyak warga yang datang ke wihara untuk mendapatkan peruntungan," ungkapnya di Kantor Dinas Sosial DKI Jakarta, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).

"Petugas P3S tidak menjangkau mereka, hanya memastikan tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti berdesak-desakan sehingga menimbulkan korban," sambungnyu.

Namun, lanjut Chaidir, toleransi yang diberikan selama perayaan tahun baru Tonghoa itu berakhir bersamaan dengan bergantinya hari. Mereka yang diketahui datang dari wilayah luar DKI Jakarta, seperti Tangerang, Banten, Cikampek hingga Indramayu itu, harus kembali pulang dan tidak melanjutkan aktivitas mengemis di ibu kota.

"Selama sehari mereka bisa dapat uang ratusan ribu per orangnya, karena itu mereka selalu datang. Kebiasaan (PMKS) ini yang harusnya diubah, karena itu begitu Imlek selesai mereka harus kembali ke daerah asalnya masing-masing. Apabila tidak, akan dijangkau dan dibina tidak diperbolehkan untuk pulang," paparnya. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved