Home »

Bogor

Katulampa Nggak Selalu Menyeramkan Malah Penuh Warna Bisa Sekalian Tubing

Mereka penasaran dengan keberadaan kampung tematik "warna-warni" di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.

Katulampa Nggak Selalu Menyeramkan Malah Penuh Warna Bisa Sekalian Tubing
Anak-anak usia 5 tahun ke atas lebih seru bermain arus lebih deras menggunakan ban karet di Desa Katulampa. (KOMPAS.com/FIKRIA HIDAYAT) 

WARTA KOTA, BOGOR -- Sejak tahun 2016, sebuah perkampungan padat penduduk di timur Kota Bogor mulai banyak didatangi wisatawan.

Mereka penasaran dengan keberadaan kampung tematik "warna-warni" di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.

Kampung warna-warni ini awalnya sama seperti kampung pada umumnya. Namun, dengan inisiatif dan kesadaran warganya yang mengusung inovasi Gerakan Masyarakat Sadar Wilayah (Gemarsawi), mereka kemudian mempercantik lingkungan tempat tinggalnya yang dihuni selama puluhan tahun itu dengan cat warna-warni.

Pengembangan potensi wisata kampung warna-warni di Desa Katulampa itu memang tak lepas dari ide sejumlah pemuda yang tinggal di sana.

Berawal dari obrolan iseng, pemuda-pemuda ini kemudian mengajak warga lainnya untuk bersama-sama menata kembali agar lebih cantik dan indah.

Desa Katulampa bersolek jadi cantik dengan aneka warna dan ragam lukisan dinding atau mural. (KOMPAS.com/FIKRIA HIDAYAT)
Desa Katulampa bersolek jadi cantik dengan aneka warna dan ragam lukisan dinding atau mural. (KOMPAS.com/FIKRIA HIDAYAT) ()

Puluhan dinding rumah dari lima rukun tetangga di desa itu lantas disulap dengan cat warna-warni yang menghasilkan gambar menarik dan inspiratif, mulai dari gambar landscape Kota Bogor dengan pemandangan Gunung Salak, Kujang, angkot, hingga gambar-gambar kartun.

Tidak hanya itu, warga setempat juga menyulap ruang terbuka menjadi arena lokasi permainan tradisional dan perpustakaan.

Potensi wisata di kampung itu juga semakin berkembang setelah mereka membuka wahana permainan air di Kali Katulampa yang melintas di pemukiman mereka dengan sebutan "Ngalun" atau menyusuri kali dengan ban karet.

Pemuda setempat bernama Saeful Bahri mengatakan, untuk mengecat tembok-tembok rumah warga, mereka secara sukarela patungan atau swadaya untuk membeli cat.

Dimulai dengan sedikit demi sedikit, lalu berlanjut mengecat irigasi dan tebingan di pinggir Kali Katulampa.

Halaman
123
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help