Home »

News

» Jakarta

Di Depan Ratusan Keluarga Pahlawan, Mensos Singgung Kesalahan Menilai Makna Sejarah

Kita melihat pahlawan hanya melalui foto yang terpampang saja tanpa berusaha memaknai lebih dalam apa esensi dari perjuangan itu sendiri,"

Di Depan Ratusan Keluarga Pahlawan, Mensos Singgung Kesalahan Menilai Makna Sejarah
Warta Kota/Feryanto Hadi
Mensos bersama keluarga pahlawan. 

WARTA KOTA, KALIBATA -- Menteri Sosial Idrus Marham menilai selama ini ada kesalahan dalam memahami sejarah bangsa serta memaknai semangat patriotik para pahlawan yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan bangsa.

Kesalahan ini memunculkan masyarakat yang kurang produktif baik dari segi perilaku maupun pemikiran.

"Selama ini kita memandang sejarah seolah membaca buku catatan masalalu saja. Kita melihat pahlawan hanya melalui foto yang terpampang saja tanpa berusaha memaknai lebih dalam apa esensi dari perjuangan itu sendiri," ungkap Idrus dalam Sarasehan Nasional Keindonesiaan Dalam Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa Menghadapi Tantangan Global dan Lokal yang digelar Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) bekerjasama dengan Labolatorium Sejarah FIB UI di Taman Makam Nasional Kalibata, Rabu (14/2).

Ia menambahkan, pada masa dahulu, diskusi atau perdebatan dilakukan secara konseptual dengan menghasilkan keputusan dan pemikiran yang benar-benar bermanfaat untuk bangsa. Berbeda dengan sekarang, kata Idrus, justru, lebih banyak orang yang berpikir pragmatis dan cenderung lebih mengedepankan intrik atau bahkan fitnah.

"Persoalan bangsa bukan hanya kesenjangan sosial. Tapi kesenjangan niat. Niat perjuangan kita. Niat pengabdian kita. Maka berjuanglah dari motivasi ideologis yang sudah terbukti tahan banting," ungkapnya.

Idrus mengungkapkan, harus ada reaktualisasi mengenai pandangan terhadap makna sejarah itu sendiri. Jika sebelumnya sejarah dipandang sebagai masalalu, Idrus mengajak masyarakat untuk memaknai sejarah untuk masa depan.

"Jadikan sejarah dan kisah heroik itu sebagai motivasi dan inspirasi untuk membangun bangsa. Kita bicara sejarah, berarti bicara masa depan. Dan terpenting, Indonesia maju harus tetap menjunjung karakter orisinil bangsa ini," kata dia.

Idrus mengingatkan, dalam memaknai sejarah harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Seperti misalnya kemerdekaan, dimana harus lebih dilihat proses mencapai kemerdekaan itu sendiri, bukan hasilnya.

"Bahwa kemerdekaan dicapai dengan cara yang tidak mudah. Sama juga membangun bangsa, jika tidak bersungguh-sungguh dalam menerapkan motivasi ideologis," katanya.

Menurutnya, generasi muda pun harus dapat menjadi inspirator bangsa pada masanya.

Pemahaman ini menurutnya selaras dengan implementasi program Presiden RI Jokowi, yakni revolusi mental.

"Sekali lagi, jika perjuangan kita tidak didasarkan nilai dan ideologi dan dilakukan secara pragmatis, maka yang timbul adalah sikap pragmatis serta munculnya berbagai tindakan negatif seperti menyebar hoax, fitnah serta bermain SARA.

Sementara itu, Lily Wahid selaku Ketua Bidang Organisasi IKPNI menambahkan, diskusi tersebut selain dihadiri keluarga pahlawan juga ratusan mahasiswa dan siswa.

"Tujuan diskusi ini untuk mengubah pandangan masyarakat mengenai esensi sejarah itu sendiri. Bahwa selama ini sejarah hanya dijadikan sebagai cerita masalalu. Padahal, kemajuan bangsa ini bisa dicapai dengan mengilhami semangat para pahlawan dan pendiri bangsa," ungkapnya

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help