Pasokan Lemper ke Blok M, Pasar Senen, Pasar Kebayoran Lama, Sentra Usahanya Ada di Sini

Di tempat yang tidak jauh dari sentra tekstil Cipadu itu yang lebih dikenal adalah pembuat lemper.

Pasokan Lemper ke Blok M, Pasar Senen, Pasar Kebayoran Lama, Sentra Usahanya Ada di Sini
Foto/Tri Sulistiowati
Pembuat lemper 

WARTA KOTA, JAKARTA---Ada tempat bermukim para perantau dari Cilacap, Jawa Tengah, di kawasan Kreo, Kota Tangerang. Di tempat itu merea sama-sama mencari rezeki dengan membuat kue basah seperti lemper, bolu kukus, dan sebagainya.

Di tempat yang tidak jauh dari sentra tekstil Cipadu itu yang lebih dikenal adalah pembuat lemper. Usaha ini sudah berjalan sejak 30 tahun lalu. Dan menjadi pemasok lemper ke kawasan Jakarta. Paling tidak ada 10 produsen lemper dan kue basah di kawasan itu.

Kuswanto, produsen kue, sudah menjalani bisnis itu selama 15 tahun, dan sudah membuat lemper mulai tahun 1980-an. Ia belajar membuat kue dari pemilik toko kue di Blok M. Mulai dari lemper, kue sus, lapis surabaya, hingga pukis.

Setelah mempunyai ketrampilan yang cukup dan tersedia modal, Kuswanto membuka usaha sendiri. Dia menyewa sebuah rumah mungil untuk dijadikan lokasi produksi.

Ia dibantu dua orang karyawan dalam tahap produksi. Dalam satu hari bisa mengolah 50 kilogram beras ketan. Seluruh hasilnya dijual di pasr kue Blok M, Jakarta Selatan, dan Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Selain Kuswanto, ada Kasmanto yang juga membuat usaha serupa. Ia sudah belajar membuat kue semenjak bujang, tahun 1985. Setelah menjadi karyawan selama dua tahun, pria yang akrab disapa Kasan membuka usaha sendiri.

Saat ini, Kasan dibantu oleh dua orang anaknya untuk memproduksi lemper. Satu hari bisa mengolah 25 liter beras ketan. Berbeda dengan Kuswanto, Kasan menitipkan lemper ke pedagang kue di Pasar Kebayoran Lama dan Blok M yang ada di Jakarta Selatan.

Kuswanto, salah satu produsen lemper mengatakan, biasanya pesanan mulai banyak berdatangan saat musim nikah. "Tapi pada hari-hari biasa, ada saja yang pesan untuk kegiatan kantor atau arisan," kata Kuswanto.

Bulan Ramadan dan perayaan Maulid Nabi menjadi masa panen bagi penjual lemper ini. Permintaan terus meningkat. Pada masa-masa itu, Kuswanto sampai menambah produksi lemper hingga 10 kilogram per hari untuk memenuhi permintaan konsumen.

Untuk membeli bahan baku, Kuswanto membelinya dari Pasar Kreo, Larangan. Daunnya dia beli dari pemasok yang berada di sekitar Larangan.  

Sedangkan Kasan mengatakan, penjualannya terus menurun sejak Lebaran tahun lalu. Dia pun tidak mengetahui faktor penyebab turunnya penjualan lemper ini.

Produksinya terus menurun dari 50 kg per hari menjadi 25 kg per hari. "Sekarang, tidak ada musim ramai, penjualan seret setiap hari," katanya.

Untuk bahan baku, sama seperti pedagang lainnya, dia pun membeli beras ketan, daging ayam, dan lainnya dipasar Kreo, Larangan. Sedangkan untuk daun mendapatkan pasokan dari pedangan daun asal Ciledug.

Mereka memulai produksi rata-rata pada pukul 07.00 WIB. Siang harinya membungkus lemper, dan siap dijual menjelang malam hari.

Kuswanto menjual lemper dengan harga Rp 700 untuk ukuran kecil dan Rp 1.200 untuk ukuran besar. Sementara Kasan menjual dengan harga Rp 800 untuk yang berukuran kecil dan Rp 1.200 untuk ukuran besar. Biasanya pedagang bakal mengambil untung sekitar Rp 200-Rp 300 tiap lemper sebelum dijual ke konsumen.

Menurut mereka yang menjadi tantangan pada saat ini adalah harga jual bahan produksi yang kerap tidak menentu. Bahkan harga cenderung terus naik. Misalnya harga beras ketan yang kenaikannya hingga 50 persen.

Sebelumnya untuk membeli satu karung beras ketan hanya perlu uang sekitar Rp 630.000. Tapi, kini, modal yang harus disiapkan mencapai Rp 1,17 juta.


Kontan.co.id/Tri Sulistiowati
Berita ini sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul Dari Sini Asal Lemper yang Dijual di Pasar Jajan Jakarta

Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved