WartaKota/

DPR Apresiasi Vonis Banding Pejabat Pajak Diduga Bandar Narkoba

vonis delapan tahun penjara ini membuktikan aparat pengadilan tinggi benar-benar berkomitmen perang terhadap narkoba.

DPR Apresiasi Vonis Banding Pejabat Pajak Diduga Bandar Narkoba
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Ahmad Sahroni, politikus Partai Nasional Demokrat (Nasdem) 

WARTA KOTA, JAKARTA- Pengadilan Tinggi Manado memberatkan vonis mantan Kepala Bidang Pendaftaran Ekstensifikasi Penilaian Dirjen Pajak kantor Wilayah Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo dan Maluku Utara (Kanwil Suluttenggomalut) Wahyu Nugroho dengan vonis delapan tahun di tingkat banding.

Wahyu Terbukti bukan sebagai pecandu yang harus direhabilitasi. Putusan banding ini lebih berat dibanding vonis di Pengadilan Negeri Manado sebelumnya, yakni satu tahun penjara dikurangi masa tahanan.

Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengapresiasi vonis banding tersebut. Ia menilai vonis delapan tahun penjara ini membuktikan aparat pengadilan tinggi benar-benar berkomitmen perang terhadap narkoba.

Sahroni menambahkan, vonis tinggi dijatuhkan Pengadilan Tinggi Manado ini sekaligus menekankan adanya kejanggalan dari putusan diberikan oleh PN Manado.

“Barang bukti lebih dari 30 gram seharusnya sudah menjadi gambaran oknum PNS Ditjen Pajak ini bukan sekedar sebagai pemakai yang harus direhabilitasi,” tegas Sahroni.

Politisi Nasdem ini turut mengapresiasi kinerja Kapolda Sulut Irjen Bambang Waskito dan jajarannya dalam pemberantasan narkoba, termasuk yang menjerat pegawai pajak tersebut.

“Sesuai putusan Pengadilan Tinggi Manado, maka terdakwa harus dipenjara, bukan direhabilitasi,” tuturnya.

Apresiasi juga disampaikan Sahroni terhadap Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Dirjen Pajak yang mau berkomitmen melakukan pemberatasan narkoba di lingkungan Kementerian Keuangan.

Sebelumnya Juru Bicara  Pengadilan Negeri (PN) Manado, Vincentius Banar Senin (12/2) membenarkan vonis delapan tahun terhadap Wahyu Nugroho.

“Nugroho divonis oleh Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Manado, dengan hukuman pidana 8 tahun penjara dan denda satu miliar rupiah,” jelasnya.

Ia menjelaskan selain Wahyu, terdakwa Totok Hartono yang terlibat dalam kasus yang sama juga mendapat ganjaran serupa.

“PT Manado dalam putusannya menyatakan, terdakwa Wahyu Nugroho dan Totok bukanlah pecandu yang harus direhabilitasi. Tetapi sudah bersekongkol bersama menguasai narkotika golongan satu bukan tanaman, melebihi 5 gram,” ujarnya.

Wahyu Nugroho sebelumnya ditangkap Direktorat Anti Narkoba Polda Sulut 19 Oktober 2017 di parkiran basement apartemen taman Sari Lagon Bahu Mall dengan barang bukti  dua paket besar narkotika jenis sabu-sabu seberat 30,41 gram.

Majelis hakim PN Mando yang diketuai Vincentius Banar kemudian memvonis satu tahun dan akhirnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) kemudian mengajukan banding.

Editor: ahmad sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help