9 Kartini Rembang Menabuh Lesung di Depan Istana Presiden

Para petani meminta pemerintah untuk setia dengan mandatnya, mengumumkan dan menjalankan hasil KLHS dengan sejujur-jujurnya.

9 Kartini Rembang Menabuh Lesung di Depan Istana Presiden
Warta Kota/Hamdi Putra
Para petani dari Rembang, Jawa Tengah, yang menamai dirinya dengan sebutan 'Sembilan Kartini Kendeng' melakukan aksi tabuh lesung di depan Istana Presiden, Jakarta, Senin (12/2). 

Laporan Wartawan WartakotaLive.com, Hamdi Putra.

WARTA KOTA, GAMBIR -- Sembilan orang Kartini dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, menggotong dan menabuh lesung di depan Istana Presiden, Jakarta, Senin (12/2).

"Kartini ada sembilan orang, tiga lainnya bapak-bapak," kata Sukinah, seorang Kartini yang ikut menabuh lesung.

Para petani dari Rembang ini meminta pemerintah memperhatikan nasib para petani.

"Banyak lahan-lahan pertanian yang masih produktif dijadikan pertambangan," ujar Sukinah.

Agustus 2016 silam, Presiden Jokowi memutuskan untuk melakukan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di sepanjang pegunungan Kendeng.

Selama proses KLHS berlangsung, tidak boleh ada izin pertambangan baru,  aktivitas pertambangan harus dihentikan dan KLHS harus dilakukan secara terbuka serta melibatkan masyarakat.

"Yang pertama sudah sesuai dengan KLHS, yang kedua ini badan geologi agak tertutup," tutur Sukinah.

Lebih tragis lagi, ketika hasil KLHS tahap pertama diumumkan pada 12 April 2017, para petani menilai pemerintah daerah tidak menjalankan hasil KLHS tahap pertama.

"Pemda malah minta badan geologi melakukan kajian ulang," jelasnya.

Dalam proses keterlibatannya, masyarakat hanya dijadikan legitimasi temuan-temuan hasil kajian badan geologi, padahal data-data masyarakat sudah diserahkan kepada badan geologi.

"Cara ini menunjukkan badan geologi melibatkan masyarakat secara formalitas saja," terangnya.

Para petani meminta pemerintah untuk setia dengan mandatnya, mengumumkan dan menjalankan hasil KLHS dengan sejujur-jujurnya.

"Petani harus dijaga dan diayomi, bukan dikorbankan," tutup Sukinah kepada Warta Kota, Senin (12/2). (M15)

Penulis: Hamdi Putra
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved