Ini Penyebab Pembangunan Proyek Rusunawa Nagrak Terlambat

Warta Kota mendatangi proyek Rusunawa Nagrak di Marunda, Jakarta Utara, yang hingga kini belum kelar, Rabu (7/2/2018)

Ini Penyebab Pembangunan Proyek Rusunawa Nagrak Terlambat
Warta Kota/Theo Yonathan Simon Laturiuw
Suasana proyek Rusunawa Nagrak 

WARTA KOTA, CILINCING---Warta Kota mendatangi proyek Rusunawa Nagrak di Marunda, Jakarta Utara, yang hingga kini belum kelar, Rabu (7/2/2018). Fisik gedung rusunawa kelihatan sudah rampung, hanya belum seluruh bagian gedung dicat.

Pekerja di Rusunawa Nagrak PT Totalindo dan PT Adhi Karya masih bekerja di setiap lantai gedung dan bagian taman. Bahkan akses masuk ke lokasi 14 tower Rusunawa Nagrak juga masih berantakan. Jalannya masih berupa jalan tanah, becek, dan banjir selama 3 hari belakangan.

Khumsoni, Project Manager PT Rusunawa Nagrak tower 1-5 PT Totalindo Eka Persada, mengakui keterlambatan tersebut dan tidak rampung pada 10 Februari 2018. Pengerjaan di tower 1-5 baru 95 persen dan terganggu banjir dengan tinggi sampai 60 centimeter.

"Kami sebenarnya sekarang tinggal menyelesaikan bagian taman dan jalan di rusunawa," kata Khumsoni kepada Warta Kota, Rabu (7/2/2018).

Baca: DPRD DKI Tagih Denda Tiga Kontraktor Akibat Molornya Proyek Rusunawa Nagrak

Beberapa truk besar pengangkut bata kesulitan menembus lokasi proyek akibat banjir di sepanjang jalan akses masuk. Akibatnya pembuatan taman dan jalan di lokasi tower 1-5 pun terhambat.

Khumsoni memperkirakan tower 1-5 baru rampung sepenuhnya pada akhir bulan ini atau awal Maret 2018.

Menurut Khumsoni, keterlambatan PT Totalindo sudah dimulai sejak awal proyek karena waktu penandatanganan kontrak mundur.

"Kami mulainya saja terlambat, baru 12 Mei 2017 proyek kami mulai. Di sini kami mulai paling belakang. Ketika kami masuk, tower 6-10 sudah tujug lantai. Kami baru mulai bikin fondasi," kata Khumsoni.

Baca: Pembangunan Rusun Nagrak Sudah 95 Persen

Khumsoni mengatakan, selanjutnya terjadi kesalahan dari perencana yang tak memperhitungkan dibutuhkannya pengurukan tanah.

"Tanah di sini ada di bawah peel banjir. Makanya akhirnya perlu diuruk tanah setinggi 2,1 meter," kata Khumsoni.

Tapi masalah-masalah itu sudah selesai, kini hanya perlu menyelesaikan taman sambil berharap banjir cepat selesai.

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved