Minta Jalan Jatibaru Raya Dibuka Lagi, Sopir Angkot Tanah Abang Malah Ditawarkan Gabung Ok Otrip

Senada dengan Andreas, sopir angkot M08 Endra (35) juga menolak program Ok Otrip.

Minta Jalan Jatibaru Raya Dibuka Lagi, Sopir Angkot Tanah Abang Malah Ditawarkan Gabung Ok Otrip
Warta Kota/Henry Lopulalan
Para sopir angkot yang rutenya melintasi kawasan Tanah Abang melakukan aksi protes di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (22/1/2018). 

WARTA KOTA, TANAH ABANG - Sebanyak 15 perwakilan sopir angkot yang beroperasi di Tanah Abang telah menemui Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, guna membahas tuntutan yang mereka sampaikan pada Senin (22/1/2018) lalu di depan Balai Kota Jakarta.

Andreas, Koordinator Sopir Angkot Tanah Abang menyatakan, belum ada kesepakatan yang didapat dari pertemuan yang dimulai pada pukul 09.00 sampai siang hari kemarin, di Kantor Dinas Perhubungan, Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Intinya tadi kami enggak dapat kesepakatan, karena substansi perjuangan kami adalah agar akses Jalan Jatibaru Raya kembali dibuka," ujar Andreas saat dihubungi, Selasa (23/1/2018).

Baca: Sopir Angkot: Bus Tanah Abang Explorer Memakan Pendapatan Kami

Malahan, sambungnya, dalam kesempatan tersebut pihak Dishub melakukan presentasi Ok Otrip kepada para sopir, agar tertarik bertransformasi menggunakan sistem pembayaran berbasis non tunai.

"Tadi dari Dishub juga menawarkan agar kami tersambung dengan program Ok Otrip. Seperti salesman yang menawarkan program berbunga-bunga tapi, ke depannya kan belum tentu. Kami perlu tahu detailnya dulu, menguntungkan enggak buat kami? Kalau hanya nawarin saja semuanya juga bisa," tuturnya.

Para sopir ditawarkan gaji per bulan. Meski belum menyampaikan nominalnya, Andreas memprediksi para sopir akan mendapatkan gaji setara UMP DKI Jakarta sebanyak Rp 3,6 juta per bulan, dan ia tidak setuju.

Baca: Pendapatan Menurun karena Jalan di Tanah Abang Dipakai PKL, Sopir Angkot Protes Pemprov DKI

"Sebenarnya belum ada nominal penawaran gaji. Tapi bisa kami perkirakan misalnya gajinya UMP DKI Jakarta Rp 3,6 juta. Nah, kami dibayarkan segitu, juga dibebankan sama biaya maintenance mobil enggak? Atau biaya perawatan tanggungan Pemprov? Kalau kami yang nanggung rasanya kami keberatan," paparnya.

Senada dengan Andreas, sopir angkot M08 Endra (35) juga menolak program Ok Otrip. Ia berpendapat sudah terbiasa mendapatkan uang setiap hari untuk menyokong kebutuhan keluarganya.

"Akan ada mesin tapping. Rp 5.000 sepuasnya. Saya pribadi enggak setuju karena sistemnya gaji. Saya kan sudah berkeluarga, kalau gaji harus nunggu uangnya turun satu bulan, susah. Sudah biasa harian kan, bisa untuk ngasih jajan anak sama istri buat belanja," papar Endra.

"Gaji yang ditawarkan katanya di atas Rp 3 juta. Kami biasanya kalau dikumpulin bisa lebih dari Rp 3 juta. Paling sedikit saja sehari Rp 100 ribu bersih, sudah untuk uang makan, setoran sama bensin sudah beres," beber Endra. (*)

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help