Mahar Politik Seperti Kentut, Bau Busuknya ke Mana-mana tapi Tidak Ada yang Mau Mengaku

Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini mengatakan, isu mahar politik tak hanya terjadi jelang pilkada 2018.

Mahar Politik Seperti Kentut, Bau Busuknya ke Mana-mana tapi Tidak Ada yang Mau Mengaku
Wartakotalive.com/Angga Bhagya Nugraha
ILUSTRASI 

WARTA KOTA, MENTENG - Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini mengatakan, isu mahar politik tak hanya terjadi jelang pilkada 2018. Menurutnya, isu mahar politik sudah terdengar sejak 2015 silam.

"Mahar politik bukan isu baru. 2015, ada pengakuan dari Sebastian Salang gagal maju Pilkada di Manggarai Timur. Karena kurang satu kursi untuk menggenapi 20 persen, harus setor sejumlah uang," kata Titi di Gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Titi menuturkan, ‎selain Sebastian Salang, pada tahun yang sama calon Bupati Simalungun ‎dimintai uang hingga Rp 500 juta untuk membeli satu kursi guna menjadi kepala daerah. Kasus tersebut tidak berkembang dan mandek.

Baca: Jusuf Kalla Tak Diminta Mahar oleh Prabowo Subianto Saat Usulkan Anies Baswedan di Pilgub DKI

"Waktu itu Bawaslu biang tidak punya instrumen hukum untuk menindaklanjuti laporan. Tapi itu sudah mengemuka di publik," tuturnya.

Menurut Titi, isu mahar politik ‎selama ini hanya mengemuka di publik, namun tidak dapat dibuktikan dengan valid. Isu mahar politik hanya menjadi perbincangan di ranah publik, dan umumnya tidak ada tindak lanjut.

"‎Tidak heran kalau orang mengatakan mahar politik itu seperti kentut, yang bau busuknya ke mana-mana tapi tidak ada yang mau mengaku," paparnya. (*)

Penulis: M Zulfikar
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved