Pemilik dan Penyewa Kontrakan Bertengkar Gara-gara Air Bekas Cucian, Bhabinkamtibmas Turun Tangan

Pertikaian terjadi antara Jamal, pemilik kontrakan, dengan Imin selaku penyewa kontrakan.

Pemilik dan Penyewa Kontrakan Bertengkar Gara-gara Air Bekas Cucian, Bhabinkamtibmas Turun Tangan
ISTIMEWA
Jamal, pemilik kontrakan dan Imin selaku penyewa kontrakan di Jalan Gintung RT 10/02 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, berdamai usai bertengkar gara-gara air kotor bekas cucian pakaian, Kamis (11/1/2018) pagi. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Lingkungan warga Jalan Gintung RT 10/02 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dihebohkan pertengkaran dua warga pada Kamis (11/1/2018) pagi.

Baku hantam hampir terjadi, padahal masalah yang diributkan sangat sepele, yakni salah paham antar-warga soal pembuangan air kotor bekas cucian pakaian.

Keributan yang sempat menarik perhatian warga saat memulai hari itu, diungkapkan anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Tanjung Barat Bripka Kokoh Nugoho, yang kemudian dilaporkan seorang warga kepada pihaknya.

Baca: Mobil Jaguar Dewi Perssik Melaju Kencang, Petugas yang Mengawal Ketinggalan

Suasana yang semula memanas pun berangsur mereda, sesaat dirinya yang didampingi Ketua RT setempat menyambangi lokasi pertikaian.

Pertikaian terjadi antara Jamal, pemilik kontrakan, dengan Imin selaku penyewa kontrakan. Keduanya ribut lantaran salah paham soal air kotor bekas cucian pakaian yang dibuang di halaman rumah.

Keduanya kemudian diajak berdamai dan sepakat untuk tidak kembali bertikai. Masing-masing pun ditawarkan solusi, antara lain, pihak pemilik kontrakan berjanji memperbaiki saluran air, sedangkan pihak pengontrak tidak boleh kembali membuang air kotor ke depan halaman rumah.

Baca: Bos First Travel Masih Berjanji Bisa Berangkatkan 50 Ribu Jemaah Umrah

"Perihal sangkut paut masalah air limbah cucian yang menggenangi pekarangan rumah Pak Imin sudah selesai. Pihak pemilik kontrakan sudah mengerti dan sanggup akan memperbaiki saluran air tersebut. Pihak pengontrak juga berjanji tidak membuang air kotor ke depan rumah lagi," ungkapnya dihubungi.

Problem solving yang ditawarkan pihaknya tersebut merupakan bagian dari restoratif justice, yang berarti tidak semua permasalahan di lingkungan masyarakat diselesaikan lewat pendekatan hukum. Penyelesaian masalah senyatanya harus berdasarkan kesepakatan bersama dengan tetap mengedepankan kearifan lokal masyarakat.

"Dalam bermasyarakat harus berdasarkan kepentingan bersama serta mengedepankan kearifan lokal yang ada lingkungan tempat mereka tinggal. Jadi harus ada guyub dan kekeluargaan, karena semua masalah dapat diselesaikan bukan hanya lewat memenjarakan orang," tuturnya. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help