Korupsi KTP Elektronik

Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Setya Novanto Minta Perlindungan KPK

Perlindungan itu tetap diberikan lantaran risiko menjadi JC bisa terjadi sekarang, saat persidangan, atau setelah putusan.

Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Setya Novanto Minta Perlindungan KPK
Warta Kota/Henry Lopulalan
Suasana sidang yang mendudukkan Setya Novanto sebagai terdakwa, Rabu (20/12/2017). 

WARTA KOTA, KEMAYORAN - Terdakwa korupsi pengadaan KTP elektronik Setya Novanto meminta perlindungan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, sehubungan dengan pengajuan dirinya sebagai saksi pelaku yang berkerja sama alias justice collaborator.

Kuasa hukum Novanto, Firman Wijaya mengatakan, kliennya menjadi justice collaborator bukanlah pilihan yang mudah. Dia bisa menjadi sasaran tembak dan bulan-bulanan.

"Kami juga tentu menyampaikan pada Pak Nov, bahwa pilihan menjadi JC bukan pilihan mudah. Karena bisa menjadi sasaran tembak dan bulan-bulanan," kata Firman Wijaya di Pengadilan Negeri Tindak Pidana korupsi, Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Baca: Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, KPK: Setya Novanto Harus Mengakui Perbuatannya Dulu

"Nah, ini yang kami minta protection cooperating person itu penting dirumuskan secara jelas. Apa model perlindungan yang bisa diberikan kepada Pak Nov kalau beliau jadi JC?" sambung Firman Wijaya.

Firman mengatakan, perlindungan diberikan kepada tersangka, terdakwa, dan terpidana. Perlindungan itu tetap diberikan lantaran risiko menjadi JC bisa terjadi sekarang, saat persidangan, atau setelah putusan.

Firman mengaku ada nama lebih besar dari Novanto pada kasus yang merugikan keuangan negara Rp 2,3 triliun itu. Firman optimistis kliennya itu tidak dalam posisi yang sanggat berpengaruh pada kasus korupsi proyek yang menghabiskan anggaran negara Rp 5,9 triliun itu.

"Saya katakan soal penganggaran, perencanaannya sudah dirancang jauh. Dan itu ada lembaganya, ada instansinya. Kita lihat siapa inisiator proyek e-KTP ini," tutur Firman Wijaya. (*)

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help