Ranperda Nagari Lemahkan Fungsi Adat Minangkabau

Rancangan Peraturan Daerah Nagari yang disahkan DPRD Sumatera Barat dinilai melemahkan fungsi adat Minangkabau.

Ranperda Nagari Lemahkan Fungsi Adat Minangkabau
istimewa
Diskusi membahas adat Minangkabau di TMII. 

WARTA KOTA, PALMERAH-Rancangan peraturan daerah (Ranperda) Nagari yang disahkan DPRD Sumatera Barat pada akhir Desember 2017 lalu, menjadi salah satu topik hangat dalam acara 'Maota Wisata Sumbar' yang baru saja digelar di Anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Dedi Yusmen, salah satu Pemangku Adat di Nagari Sianok Anam Suku Luhak Agam, dengan Gelar Datuak Rajo Pangulu Nan Tinggi yang menjadi narasumber dalam acara itu menjelaskan, Ranperda Nagari memuat pasal tentang Kerapatan Adat Nagari (KAN) dengan tugas utama mengurus Adat Nagari tidak lagi diurus oleh Para Pangulu Adat/Datuak yang merupakan kumpulan pimpinan kaum dalam Nagari.

Nagari merupakan unit pemerintahan otonom dalam struktur Minangkabau. Dalam Ranperda Nagari ini selain Panghulu Adat/Datuak yang menjadi anggota dalam kerapatan adat juga diisi oleh 4 unsur yang lain yaitu alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan paga nagari.

"Perubahan ini merubah secara sistem keputusan adat dalam nagari dan melemahkan fungsi adat dalam Kerapatan Adat Nagari dan Adat Salingka Nagari," kata Dedi Yusmen lewat keterangan tertulisnya, Selasa (9/1/2018).

Pasalnya, lanjut Dedi, berkurangnya fungsi penghulu Panghulu Adat/Datuak di dalam struktur adat nagari ini, maka akan melemahkan secara keseluruhan sendi-sendi struktur Minangkabau.

Acara 'Maota Wisata Sumbar' merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Minangkabau's Week yang digelar 23 Desember 2017 s/d 1 Januari 2018 lalu, oleh perkumpulan anak muda dari Kampoeng Minangkabau.

Andika Cendekia, Ketua Pelaksana Minangkabau's Week mengatakan, 'maota' atau diskusi lepas dalam tradisi Minangkabau biasa dilakukan di lapau atau warung kopi di nagari-nagari (desa) Sumatera Barat dengan membahas segala macam topik yang diikuti oleh siapa saja yang datang sembari nongkrong di lapau.

"Kongkow di lapau istilahnya ota lapau. Model ota lapau itu kami bawa dalam acara ini dengan tema Wisata Sumbar ini," katanya.

Sedangkan tujuan dari event Minangkabau’s Week kata Andika untuk mempromosikan potensi pariwisata Sumbar seperti adat dan budaya, seni tradisi, kuliner, daerah wisata, dan lainnya.

Penulis: Ign Agung Nugroho
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help