Pertanian Indonesia Hadapi Masalah Besar, Generasi Penerus Petani Sulit Didapat

"... jarang sekali pemuda yang ingin jadi petani.... Permasalahan inilah yang harus kita carikan solusinya," kata Mentan... Rabu (3/1/2017).

Pertanian Indonesia Hadapi Masalah Besar, Generasi Penerus Petani Sulit Didapat
via Antaranews.com
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (ANTARA /izaac mulyawan) 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan nasib pertanian  di Indonesia semakin buruk karena sulit mendapatkan generasi penerus petani di kalangan pemuda sementara para petani di tanah air yang ada banyak yang sudah semakin tua usianya.

"Kita ketahui memang jarang sekali pemuda yang ingin jadi petani. Pertama, karena dianggap miskin, kotor dan sangat melelahkan. Permasalahan inilah yang harus kita carikan solusinya," kata Menteri Amran  saat menyaksikan kegiatan panen raya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (3/1/2017).

Mentan menyayangkan situasi seperti itu karena peranan petani tetap sangat vital dalam menjaga kedaulatan pangan. Namun Mentan tidak menyodorkan angka terkait jumlah dan usia petani yang ada saat ini.

Menurut dia, pemerintah saat ini tengah berusaha mengubah paradigma buruk pekerjaan petani. Petani-petani di Indonesia dinilai harus menjadi petani modern yang bercitra sejahtera dan menyejahterakan.

"Kita akan membuat petani modern. Kalau dulu membajak sawah menggunakan kerbau lalu saat memanen menggunakan arit, sekarang jangan ada lagi hal seperti itu. Petani kita harus lebih maju," kata Andi Amran.

Amran menyebutkan, di antara upaya yang telah dilakukan pemerintah saat ini ialah memperbaiki berbagai teknologi pertanian di Indonesia menjadi teknologi yang lebih modern.

"Bantuan alsintan (alat dan mesin pertanian) kita berikan. Teknologi benih yang tahan hama dan bisa menghasilkan panen 9-10 ton per hektare kita berikan cuma-cuma. Jadi tidak ada lagi petani kita dianggap kotor, capek dan melelahkan," katanya.

Selain akan mengubah padangan bahwa petani itu identik dengan kotor, pemerintah juga akan mengubah paradigma lain di bidang pertanian, yakni melakukan penghentian impor sejumlah komoditas.

"Seperti beras, sudah tiga tahun terakhir sejak 2016, 2017 hingga 2018 kita tidak impor. Kebutuhan beras kita terpenuhi," katanya

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved