Gara-gara Gudangnya Dianggap Menebar Kutu, Bulog Semarang Digugat Perusahaan Kayu, Tuntut Ganti Rugi

Perum Bulog Semarang digugat sebuah perusahaan lantai kayu gara-gara banyaknya kutu yang diduga dari gudang Bulog yang menyebar dari sana.

Gara-gara Gudangnya Dianggap Menebar Kutu, Bulog Semarang Digugat Perusahaan Kayu, Tuntut Ganti Rugi
via Antaranews.com
Foto dokumen gudang Bulog (ANTARA /Dedhez Anggara) 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Perusahaan Umum (Perum) Bulog Subdivisi Regional Semarang, Jawa Tengah, digugat produsen lantai kayu PT Jati Luhur Agung gara-gara banyaknya kutu yang bermunculan dari gudang Bulog kemudian menyebar ke lingkungan sekitarnya.

Legal Officer PT Jati Luhur Agung, Bagus Haris, Selasa, mengatakan, kutu dari gudang yang letaknya bersebelahan dengan pabrik lantai kayu ini menyebar ke sekitar lokasi pabrik di kawasan industri Wijaya Kusuma Semarang.

"Kejadian itu bermula sekitar Juli 2017. Di sekitar lokasi pabrik kayu banyak sekali ditemukan kutu," kata Bagus Haris di Semarang.

Khawatir serangga itu merusak produk yang akan diekspor ke luar negeri, kata Bagus, maka pihak perusahaan memanggil ahli yang paham tentang serangga.

Setelah dilakukan pemeriksaan, lanjutnya, kutu yang menyebar di sekitar pabrik tersebut teridentifikasi bukan rayap.

"Dari hasil pemeriksaan ahli, kutu-kutu itu berasal dari tanaman jagung," katanya.

Setelah dilakukan penelusuran, diketahui sumber kutu tersebut berasal dari gudang Bulog yang berada persis di samping pabrik kayu itu.

"Kami sudah sampaikan keberatan ke Bulog. Mereka juga menyatakan memang mendapat titipan stok jagung dan sempat terlambat melakukan fumigasi," tambahnya seraya menambahkan, hingga kini belum ada upaya nyata untuk mengatasi masalah kutu tersebut.

Karena belum ada niat baik untuk menyelesaikan masalah itu, PT Jati Luhur Agung akhirnya mengajukan gugatan perdata dan meminta ganti rugi.

Total ganti rugi yang dituntut mencapai Rp6 miliar, dengan rincian sekitar Rp1,1 miliar di antaranya merupakan kerugian karena harus menarik kembali empat kontainer produk yang sudah dikirim ke Amerika Serikat (AS).

"Kami tarik kembali karena khawatir ditolak negara tujuan karena dikira produk kami ada rayapnya," katanya.

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help