BPOM Luncurkan Aplikasi 'Public Warning' Obat Tradisional

Badan POM RI mengeluarkan aplikasi Public Warning Obat tradisional, dengan klik www.pom.go.id/pw-ot.apk.

BPOM Luncurkan Aplikasi 'Public Warning' Obat Tradisional
Warta Kota
Warta Kota/Lilis Setyaningsih AKSI PEDULI-- Aksi Peduli Kosmetika Aman dan Obat Tradisional Bebas Bahan Kimia Obat serta peluncuran aplikasi Badan POM. Tampak hadir Kepala BPOM RI Penny K Lukito, di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/12/2017). . 

WARTA KOTA, KUNINGAN-- Saat tejadi peredaran berbagai jenis kosmetik maupun obat tradisional di pasaran, sebagian warga merasa ragu apakah kosmetik tersebut aman atau tidak.

Ketika warga ingin melaporkan ke pihak berwajib bahkan pihak terkait seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hal itu tak mudah dilakukan. Masyarakat sering menghadapi kesulitan saat ingin melaporkannya.

Pada 2017 dari sekitar 6.000 izin edar, laporan yang masuk kurang dari 100.

Untuk mempermudah masyarakat melaporkan sekaligus mengetahui apakah obat tradisional (OT) Bebas Bahan Kimia Obat (BKO), Badan POM RI mengeluarkan aplikasi Public Warning Obat tradisional, dengan klik www.pom.go.id/pw-ot.apk.

Acara ini dihadiri sejumlah selebritas seperti Christian Sugiono, Maia Estiyanti, Maudy Koesnaedi, citra skolastika dan banyak selebritis lain.

Menurut Kepala Badan POM RI Penny K Lukito di Jakarta, Senin (11/12/2017), mengatakan, aplikasi ini merupakan program/aplikasi berbasis android yang berisi daftar produk obat tradisional yang dinyatakan berbahaya melalui public warning Badan POM .

"Aplikasi ini akan memudahkan masyarakat dalam memilih produk OT yang aman untuk mereka konsumsi," ujar Penny K Lukito pada acara peluncuran aplikasi serta Aksi Peduli Kosmetika Aman dan Obat Tradisionak Bebas Bahan Kimia Obat, Balai Kartini, Jakata, Senin.

Selama periode Desember 2016 hingga November 2017, Badan POM menemukan 39 OT mengandung BKO, dengan 28 di antaranya tidak memiliki izin edar Badan POM Rl (ilegal). BKO yang teridentifikasi dalam produk OT tersebut didominasi Sildenafil dan turunannya yang berisiko dapat menimbulkan efek kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan iantung. hingga kematian. BKO lainnya yang juga ditemukan adalah pereda nyeri seperti Fenibutazon.

Selama 2017 Badan POM juga menemukan 26 jenis kosmetika mengandung bahan berbahaya. Temuan tersebut didominasi oleh produk kosmetika dekoratif dan produk perawatan kulit dengan jenis bahan berbahaya yang teridentifikasi digunakan di dalamnya antara lain merkuri, bahan pewarna merah K3 dan merah K10. Ketiga bahan tersebut dapat berefek buruk bagi kesehatan.

Merkuri bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan teratogenik [mengakibatkan cacat pada tanin], bahan pewarna merah K3 dan merah K10 juga bersifat karsinogenik. Selain itu, ditemukan pula kosmetika mengandung BKO yang seharusnya tidak diperbolehkan terkandung dalam kosmetika, yaitu Klindamisin.

"Sebagai langkah tindak lanjut, kami telah menarik OT mengandung BKO tersebut dari peredaran dan memusnahkannya," jelas Penny K Lukito dalam sebuah keterangan pers BPOM hari ini.

Ditembahkannya, pada 2017 ini, pemusnahan telah dilakukan terhadap OT yang tak memenuhi syarat senilai 23.9 miliar rupiah. Pembatalan nomor izin edar luga dilakukan terhadap OT yang sebelumnya telah memiliki izin edar Badan POM Rl, namun teridentifikasi mengandung BKO setelah beredar.

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help