WartaKota/

Alasan Korban Penggusuran di Tangerang Tolak Relokasi ke Rusunawa

"Kami enggak mau direlokasi ke Rusunawa. Alasannya, yang pertama jarak ke sekolahan anak kami jadi jauh," ujar Mama Adit, Minggu (10/12/2017).

Alasan Korban Penggusuran di Tangerang Tolak Relokasi ke Rusunawa
Warta Kota
Para korban pembongkaran ratusan bangunan di RT 02 dan RT 04 RW 06, Kelurahan Penunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang oleh Pemerintah Kota Tangerang ini menolak direlokasi ke rusunawa yang disediakan pemkot. Mereka beralasan, jarak rusunawa dan sekolah tempat anak mereka belajar cukup jauh. 

WARTA KOTA, TANGERANG - Pembongkaran ratusan bangunan yang berlokasi di RT 02 dan RT 04 RW 06, Kelurahan Penunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang oleh Pemerintah Kota Tangerang melalui Satuan Polisi Pamong Praja masih menyisakan masalah sekaligus kepiluan pada para korban penggusuran.

Berbagai persoalan yang tak terselesaikan itu berupa masalah lahan hingga praktik penggusuran yang dinilai tidak manusiawi.

Menurut catatan atas hasil pemantauan Warta Kota di lapangan, para korban peggusuran kini masih terlantar tanpa tempat tinggal sehingga mereka hanya mampu bertahan di lokasi.

Satu di antara warga korban penggusuran itu adalah yakni seorang perempuan yang akrab disapa Mama Adit. Ia menolak direlokasi ke rusunawa yang disediakan pemerintah setempat karena jarak rusunawa dan sekolah tempat anaknya belajar cukup jauh.

"Kami enggak mau direlokasi ke Rusunawa. Alasannya, yang pertama masalah jarak ke sekolahan anak kami jadi jauh," ujar Mama Adit saat ditemui di lokasi, Minggu (10/12/2017).

Menurutnya, dirinya bersama warga lain juga tak punya uang untuk biaya sewa rusun. Banyak alasan lain yang membuat para korban gusuran masih tetap bertahan di lokasi penertiban.

"Enggak mau pindah. Banyak warga yang masih bertahan walaupun kondisi anak-anaknya sakit," ucapnya.

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengemukakan, pihaknya telah menyiapkan relokasi bagi warga sebanyak dua unit rusunawa, yakni Rusunawa Panunggangan Barat, Cibodas dan Rusunawa Manis Jatiuwung.

"Pemerintah Kota Tangerang melakukan penertiban kawasan yang ada di wilayah Cibodas. Kami menawarkan dua rusun, satu di Rusun Cibodas dan satu lagi Rusun Manis. Hanya saja sampai sekarang tidak ada yang mau ke sana," kata Arief.

Sementara situasi yang muncul pada pasca-penggusuran membuat Gubernur Banten Wahidin Halim angkat bicara. Wahidin Halim mengaku prihatin atas peristiwa yang terjadi.

"Kalau masyarakatnya terlantar ya enggak bolehlah. Pemerintah harus tanggung jawab, harus dikanalisasi, harus direlokasi. Apalagi berdampak pada kesengsaraan warga. Apa pun harus dipikirkan jalan keluarnya. Tinggal di makam itu kan enggak manusiawi," ungkap Wahidin.

Ia menjelaskan, walaupun para korban penggusuran tidak memiliki tanah, pemerintah daerah harus mempertimbangkan sisi kemanusiaannya.

"Mereka enggak bisa ditelantarkan begitu saja, walaupun mereka tidak punya tanah tapi kan kita harus memfasilitasi, jadi human interest-nya harus dipertimbangkan," imbuhnya.

Selaku Gubernur Banten, Wahidin Halim secara tegas mengimbau Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah agar melakukan upaya penanganan secara sungguh-sungguh terkait persoalan ini. Menurutnya, permasalahan ini jangan sampai berkembang menjadi masalah yang berlarut-larut.

"Saya minta kepada Wali Kota dan jajaran pemerintah daerah untuk melakukan upaya - upaya penanganan secara sungguh - sungguh. Kami telah menurunkan tim untuk mencari kejelasan soal penertiban ini," papar Wahidin Halim.

Penulis: Andika Panduwinata
Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help