WartaKota/

Jangan Lupa, Ulang Tahun Bogasari Ada Gelar Wayangan di Tanjung Priok

"Untuk yang kesekian kalinya, hampir 20 tahun PT Bogasari terus menggelar Wayangan sebagai bentuk syukur atas ulang tahun.."

Jangan Lupa, Ulang Tahun Bogasari Ada Gelar Wayangan di Tanjung Priok
Warta Kota/Dwi Rizki
Kartu undangan pagelaran wayang kulit dari Bogasari yang berlangsung di Lapangan Parkir Barat PT ISM - Divisi Bogasari Flour Mills, Jalan Cilincing Raya Nomor 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Jumat (8/12/2017) malam. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Mensyukuri hari kelahiran sekaligus melestarikan seni budaya tradisional, PT Indofood Bogasari kembali menghadirkan Wayangan yang akan dibawakan oleh Ki Enthus Susmono dengan lakon Wisanggeni Lahir di Lapangan Parkir Barat PT ISM - Divisi Bogasari Flour Mills, Jalan Cilincing Raya Nomor 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Jumat (8/12/2017) malam.

Gelaran Wayangan diungkapkan Direktur PT Indofood Sukses Makmur, Bogasari Flour Mills, Franciscus Welirang merupakan bentuk ungkapan syukur atas ulang tahun sekaligus apresiasi Bogasari terhadap seni budaya tradisional.

Dirinya pun akan hadir dengan mengenakan pakaian serta aksesori lengkap khas tokoh pewayangan Jawa selama acara, mulai dari malam sampai Sabtu (9/12/2017) dini hari.

"Untuk yang kesekian kalinya, hampir 20 tahun PT Bogasari terus menggelar Wayangan sebagai bentuk syukur atas ulang tahun sekaligus apresiasi Bogasari terhadap seni budaya tradisional," jelasnya dalam siaran tertulis pada Kamis (7/12/2017).

Sementara itu, cerita singkat lakon berjudul Wisanggeni Lahir yang akan dibawakan oleh Ki Enthus Susmono mengisahkan kecemburuan Dewasrani terhadap pernikahan Arjuna dan Dresnala serta upaya Batara Brama untuk memisahkan keduanya atas desakan Durga.

Dengan segala cara, Batara Brama mencoba memisahkan kekasih tersebut, salah satunya dengan menyuruh Arjuna pulang ke alam dunia serta menyakiti Dresnala dengan mengeluarkan janin yang dikandungnya secara paksa hingga akhirnya lahir seorang putra bernama Wisanggeni.

Penyiksaan yang dilakukan oleh Batara Brama pun tidak berhenti sampai di situ, Wisanggeni yang merupakan cucunya sendiri di buang ke kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa.

Namun, Batara Brama ditentang oleh Batara Narada, Wisanggeni berhasil diselamatkan dan diasuh oleh Batara Narada hingga tumbuh dewasa dan menyebabkan kekacauan di Khayangan.

Singkat cerita, Batara Guru dan Batara Brama mengakui kesalahannya hingga akhirnya Arjuna dan Dresnala kembali bersatu dan berkumpul dengan Wisanggeni sebagai sebuah keluarga bahagia. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help