WartaKota/

Lalu Lintas di Bekasi Semakin Semrawut dan Terancam Stag Jika Tidak segera Diatasi

Transportasi publik dan sarana penunjangnya dinilai akan menjadikan Bekasi primadona tempat tinggal.

Lalu Lintas di Bekasi Semakin Semrawut dan Terancam Stag Jika Tidak segera Diatasi
Warta Kota/Adhy Kelana
Proses pembangunan proyek LRT di sisi jalan tol. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, M. Harun Al Rasyid menilai, kondisi arus lalu lintas di Bekasi sudah semakin semrawut.

Bahkan, berdasarkan kajiannya, setiap hari pola pergerakan kendaraan pribadi ke Kawasan Summarecon Bekasi mencapai 31.000 unit.

“Ini untuk mengarah ke Summarecon saja, belum di daerah lain di Kota Bekasi,” kata Harun saat menggelar diskusi dengan tema ‘LRT dan Masa Depan Bekasi’ di kampusnya, Jalan Cut Mutia, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (5/12/2017).

Harun memprediksi, pada tahun 2020 nanti jumlah penduduk Kota Bekasi bakal mencapai 3 juta jiwa.

Perkembangan proyek depo untuk Light Rail Transit (LRT) di Desa Jatimulya, Tambun, Kabupaten Bekasi.
Perkembangan proyek depo untuk Light Rail Transit (LRT) di Desa Jatimulya, Tambun, Kabupaten Bekasi. (Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri)

Untuk saat ini saja, jumlah penduduk Kota Bekasi mencapai 2,8 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk sebesar itu tanpa langkah strategis dari pemerintah dan pemangku kepentingan, kata dia, Kota Bekasi akan semakin padat.

Menurut dia, proporsi penggunaan kendaraan di Jabodetabek didominasi oleh pengendara motor.

Sebanyak 75 persen warga memilih naik sepeda motor, 23 persen kendaraan pribadi dan 2 persen kendaraan umum.

Masyarakat lebih memilih naik sepeda motor dan kendaraan pribadi karena ingin mendapat kenyamanan dalam transportasi.

Mereka juga ingin memperoleh kepastian waktu dalam menempuh perjalanan. Karena itu, kata dia, pemerintah harus menyediakan kendaraan umum yang layak.

“Infrastruktur angkutan massal masih sangat terbatas, baik kapasitas maupun ketersediannya. Pengadaan bus dan Kereta Api belum cukup memenuhi kebutuhan publik,” kata pria yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Transportasi Kota Bekasi (DTKB) ini.

Suasana kemacetan Jalan Ahmad Yani Bekasi.
Suasana kemacetan menuju kawasan Summarecon di Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi. (Warta Kota)

Karena itu dia menilai, pembangunan kereta api ringan atau light rail transit (LRT) yang ada di wilayah Jabodebek akan merubah peradaban masyarakat Bekasi. Apalagi pemerintah akan membangun depo atau garasi kereta LRT, sehingga konsentrasi warga yang menuju Jakarta akan terpusat di sana.

“Masyarakat yang selama ini kehilangan banyak waktu di jalan karena kemacetan, akan mendapat banyak waktu yang berkualitas karena dengan adanya LRT bisa memangkas waktu tempuh perjalanan,” ujarnya.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help