Ini Tanggapan KPK atas Keterangan Andi Narogong di Pengadilan Tipikor

Andi Agustinus ... mengonfirmasi adanya dugaan persekongkolan dalam tender proyek pengadaan KTP-e bahkan sejak sebelum proyek itu dikerjakan.

WARTA KOTA, PALMERAH--Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanggapi positif keterangan terdakwa kasus proyek pengadaan KTP Elektronik (KTP-e), Andi Agustinus, alias Andi Narogong,  yang disampaikan saat pemeriksaan terhadap dirinya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis.

Pengadilan Tipikor Jakarta menggelar lanjutan sidang perkara korupsi (KTP-e dengan agenda pemeriksaan tehadap terdakwa Andi Narogong yang sebelumnya dikenal sebagai pengusaha.

"Tadi kami mendapat informasi perkembangan yang cukup bagus dari proses persidangan KTP-e dengan terdakwa Andi Agustinus," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Kamis.

Febri mengatakan,  Andi Agustinus menjelaskan sejumlah hal yang mengonfirmasi adanya dugaan persekongkolan dalam tender proyek pengadaan KTP-e bahkan sejak sebelum proyek tersebut dikerjakan.

Menurut dia, pengaturan tersebut juga disebut diduga dilakukan oleh sejumlah pihak termasuk dua terdakwa yang pernah diproses dalam persidangan, yaitu Irman dan Sugiharto,  serta tersangka Setya Novanto dan Anang Sugiana Sudihardjo yang penyidikannya tengah berjalan.

"Aliran dana ke sejumlah pihak di DPR, Kementerian, dan swasta juga diungkap. KPK akan pelajari lebih lanjut fakta-fakta persidangan tersebut, termasuk aspek kesesuaian dengan bukti lain," ucap Febri.

Pihaknya pun mengharapkan para tersangka atau terdakwa menyampaikan hal yang sebenarnya saja karena hal itu dapat dipertimbangkan sebagai faktor meringankan dalam tuntutan atau putusan nantinya.

Sebelumnya, Andi Narogong mengakui bahwa ada komitmen pembagian fee untuk DPR sebanyak 5 persen dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebesar 5 persen dari proyek KTP-e.

"Pak Anang, Pak Isnu, Pak Tannos, saya dan Johanes Marliem dipanggil ke ruangan Pak Irman. Beliau minta 10 persen kalau mau ikut proyek ini. Akhirnya kami sanggupi itu, lima persen buat DPR lalu lima persen lainnya untuk dia (Irman) dan Depdagri. Setelah itu Pak Irman minta bantuan kepada saya dulu," kata Andi dalam pemeriksaan terdakwa di dalam sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis, itu.

Nama Anang yang disebut Andi adalah Anang Sugiana Sudihardjo selaku direktur PT Quadra Solutions; sedang nama  Isnu adalah Isnu Edhi Wibowo selaku direktur utama PT Percetakan Negara RI, Tannos adalah Paulus Tannos pemilik PT Sandipala Arthaputra; sedangkan Johannes Marliem adalah direktur PT Biomorf Lone yang seluruhnya masuk dalam konsorsium PNRI sebagai pemenang tender KTP-e.

Selain itu, Andi Narogong juga mengaku memberikan jam tangan seharga Rp1,3 miliar kepada Setya Novanto, ketua DPR sekaligus ketua umum Partai Golkar yang kini juga menjadi tersangka kasus yang sama.

"Saya berikan jam tangan Richard Mille. Waktu itu saya membelinya bersama Pak Johannes Marliem. Jadi Pak Marliem mengatakan,  maksudnya mau memperhatikan Pak Setya Novanto, sekitar tahun 2012 akhir," kata Andi.

"Dia (Johannes Marliem) mengatakan, 'Dia (Setya Novanto) mau ulang tahun, kita patungan untuk beli jam'. Saya berikan (uang) kurang lebih Rp650 juta, separuh harga jam. Akhirnya Pak Marliem beli Richard Mille di Amerika. Total harganya Rp1,3 miliar," tambah Andi.

Andi Narogong didakwa mendapatkan keuntungan 1,499 juta dolar AS dan Rp1 miliar dalam proyek pengadaan KTP-e itu,  yang seluruhnya merugikan keuangan negara senilai Rp2,3 triliun.

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help