Sebanyak 14 Pengamen Diciduk Petugas Satpol PP dan Dinsos

Mereka yang terjaring adalah para pengamen jalanan, yang kerap berkeliaran di sejumlah ruas jalan utama di Depok dan di angkutan umum.

Sebanyak 14 Pengamen Diciduk Petugas Satpol PP dan Dinsos
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Tampaknya, program yang dilaunching Pemkot Depok sejak April 2016 lalu, tidak berjalan baik dan belum mendapat pola serta sistem yang rapi. Buktinya, para remaja pengamen jalanan yang terjaring tetap jadi sasaran Satpol PP Depok dan tidak ada pembinaan kelanjutan bagi mereka. 

WARTA KOTA, DEPOK -- Sebanyak 14 orang pengamen jalanan yang rata-rata masih remaja dijaring petugas Satpol PP Depok bersama Dinas Sosial (Dinsos) Kota Depok, dari sejumlah wilayah di Kota Depok, dalam operasi penjangkauan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang digelar Senin (27/11/2017) siang hingga malam hari.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Depok, Devi Maryori, menuturkan operasi penjangkauan PMKS bersama Satpol PP Depok ini dilakukan pihaknya hingga malam hari.

Hasilnya, berhasil dijaring 14 PMKS yang rata-rata masih remaja, baik perempuan atau pria.

Ke-14 PMKS itu, kata Devi, adalah para pengamen jalanan, yang kerap berkeliaran di sejumlah ruas jalan utama di Depok dan di angkutan umum, sehingga dianggap melanggar Perda Ketertiban Umum (Tibum) Kota Depok.

Tampaknya, program yang dilaunching Pemkot Depok sejak April 2016 lalu, tidak berjalan baik dan belum mendapat pola serta sistem yang rapi. Buktinya, para remaja pengamen jalanan yang terjaring tetap jadi sasaran Satpol PP Depok dan tidak ada pembinaan kelanjutan bagi mereka.
Tampaknya, program yang dilaunching Pemkot Depok sejak April 2016 lalu, tidak berjalan baik dan belum mendapat pola serta sistem yang rapi. Buktinya, para remaja pengamen jalanan yang terjaring tetap jadi sasaran Satpol PP Depok dan tidak ada pembinaan kelanjutan bagi mereka. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Keberadaan mereka katanya tak jarang mengganggu kenyamanan warga.

Setelah diamankan kata Devi, ke 14 pengamen jalanan itu diobservasi pihaknya. Hasilnya mereka mengaki tidak mau dibawa ke panti sosial milik Kemensos di Jakarta Timur atau ke manapun yang sifatnya rehabilitasi.

"Mereka tidak mau, karena di panti harus menjalani diklat di sana selama 6 bulan," kata Devi.

Namun mereka berjanji tidak akan mengamen berkeliaran lagi di jalanan atau di angkutan umum.

"Karenanya mereka kami data dan membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya. Jika kedapatan melanggar baru kita serahkan ke panti," kata Devi.

Tampaknya, program yang dilaunching Pemkot Depok sejak April 2016 lalu, tidak berjalan baik dan belum mendapat pola serta sistem yang rapi. Buktinya, para remaja pengamen jalanan yang terjaring tetap jadi sasaran Satpol PP Depok dan tidak ada pembinaan kelanjutan bagi mereka.
Tampaknya, program yang dilaunching Pemkot Depok sejak April 2016 lalu, tidak berjalan baik dan belum mendapat pola serta sistem yang rapi. Buktinya, para remaja pengamen jalanan yang terjaring tetap jadi sasaran Satpol PP Depok dan tidak ada pembinaan kelanjutan bagi mereka. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Setelah didata dan membuat surat, kata Devi, mereka dikembalikan ke keluarga masing-masing.

Devi mengatakan pihaknya akan secara rutin menggelar operasi serupa bersama Satpol PP sampai Kota Depok bebas PMKS.

Pemkot Depok sebenarnya sudah bekerjasama dengan Institut Musik Jalanan (IMJ) sebuah komunitas musisi jalanan di Depok, dalam program Depok Supercard atau Kartu Bebas Ngamen.

Program ini utamanya adalah membina pengamen jalanan yang terjaring operasi, sehingga mereka layak mendapat kartu bebas ngamen dan dapat mengamen di tempat yang layak dan disediakan pemerintah, mulai dari ruang terbuka publik, cafe, restoran, mal atau bahkan hotel.

Namun tampaknya program yang dilaunching Pemkot Depok sejak April 2016 lalu, tidak berjalan baik dan belum mendapat pola serta sistem yang rapi.

Buktinya para remaja pengamen jalanan yang terjaring tetap jadi sasaran Satpol PP Depok dan tidak ada pembinaan kelanjutan bagi mereka.

Tampaknya, program yang dilaunching Pemkot Depok sejak April 2016 lalu, tidak berjalan baik dan belum mendapat pola serta sistem yang rapi. Buktinya, para remaja pengamen jalanan yang terjaring tetap jadi sasaran Satpol PP Depok dan tidak ada pembinaan kelanjutan bagi mereka.
Tampaknya, program yang dilaunching Pemkot Depok sejak April 2016 lalu, tidak berjalan baik dan belum mendapat pola serta sistem yang rapi. Buktinya, para remaja pengamen jalanan yang terjaring tetap jadi sasaran Satpol PP Depok dan tidak ada pembinaan kelanjutan bagi mereka. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved