Mampu Olah Sampah jadi Listrik, Bekasi Bakal Pamerkan ke Presiden

Bekasi merupakan kota terbesar ketiga soal penumpukan sampah di dunia. Namun, Kota Bekasi sudah mampu mengolah sampah menjadi listrik.

Mampu Olah Sampah jadi Listrik, Bekasi Bakal Pamerkan ke Presiden
Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri
CHIEF Executif Officer PT Nusa Wijaya Abadi Teddy Sujarwanto (kiri ke kanan), Dirjen Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup Ir Sudirman, dan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi saat meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Sumurbatu, Rabu (22/11/2017). PLTSa yang menggunakan teknologi Coal Handling Control Bulding (CHCB) atau zero waste ini merupakan yang pertama di Indonesia. 

WARTA KOTA, BEKASI --- Pemerintah Kota Bekasi akan memamerkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu ke Presiden Joko Widodo. Hal itu akan disampaikan Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi saat kunjungan Jokowi ke Kota Bekasi pada pekan depan.

"Akan kita sampaikan langsung ke Bapak Presiden hasil PLTSa kita. Supaya beliau tahu, Kota Bekasi sudah mampu memiliki alat pengolah sampah menjadi listrik," kata Rahmat saat meninjau PLTSa di TPA Sumurbatu, Kota Bekasi, Rabu (22/11).

ROMBONGAN melihat proses Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Sumurbatu, Rabu (22/11/2017). PLTSa yang menggunakan teknologi Coal Handling Control Bulding (CHCB) atau zero waste ini merupakan yang pertama di Indonesia.
ROMBONGAN melihat proses Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Sumurbatu, Rabu (22/11/2017). PLTSa yang menggunakan teknologi Coal Handling Control Bulding (CHCB) atau zero waste ini merupakan yang pertama di Indonesia. (Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri)

Rahmat mengatakan, pemusnahan sampah menggunakan metode bakar merupakan hal yang mendesak. Sebab Bekasi merupakan kota terbesar ketiga soal penumpukan sampah di dunia.

"Pertama Amerika Latin, kedua India dan ketiga Bekasi. Makanya, pemusnahan sampah ini sangat perlu dilakukan terlebih bisa menghasilkan listrik," ujarnya.

Rahmat meyakini, tumpukan sampah di TPA Sumurbatu seluas 15,8 hektar akan mampu ditangani dengan baik. Soalnya setiap hari jumlah sampah yang masuk ke TPA Sumurbatu mencapai 1.500 ton. Sampah sebanyak itu, kata Rahmat, begitu cepat memenuhi zona pembuangan sampah yang sudah ada saat ini.

"Sampah per hari bisa mencapai 1.500 ton, sampah sebanyak itu bisa memenuhi lahan seluas 2 hektar dalam kurun enam bulan," katanya.

PEMBANGKIT Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Sumurbatu, Rabu (22/11/2017). PLTSa yang menggunakan teknologi Coal Handling Control Bulding (CHCB) atau zero waste ini merupakan yang pertama di Indonesia.
PEMBANGKIT Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Sumurbatu, Rabu (22/11/2017). PLTSa yang menggunakan teknologi Coal Handling Control Bulding (CHCB) atau zero waste ini merupakan yang pertama di Indonesia. (Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri)

Oleh karenanya, kata Rahmat, pihaknya menggandeng perusahaan swasta bernama PT Nusa Wijaya (NW) Abadi untuk memusnahkan sampah ini. Rahmat yakin, sistem pembakaran yang dilakukan oleh perusahaan tersebut akan berdampak positif sebab dari pembakaran itu, akan menghasilkan energi listrik.

Chief Executive Officer NW Industries Group, Teddy Sujarwanto, mengatakan pembangkit ini menggunakan teknologi zero wast, atau membakar sampah yang dipadu dengan air. Dari proses pembakaran itu, akan menghasilkan uap yang mampu menggerakan turbin.

"Gerakan dari turbin itulah yang mampu menghasilkan listrik," kata Teddy.

PEMBANGKIT Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Sumurbatu, Rabu (22/11/2017). PLTSa yang menggunakan teknologi Coal Handling Control Bulding (CHCB) atau zero waste ini merupakan yang pertama di Indonesia.
PEMBANGKIT Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Sumurbatu, Rabu (22/11/2017). PLTSa yang menggunakan teknologi Coal Handling Control Bulding (CHCB) atau zero waste ini merupakan yang pertama di Indonesia. (Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri)

Teddy memastikan, mesin yang ia gunakan ini sangat ramah lingkungan. Berbeda dengan sistem pembakaran sampah lainnya yang hanya bersuhu 100-200 derajat celcius. Dia mengklaim, pembakaran sampah menggunakan alatnya mampu mencapai suhu 1.200 derajat celcius.

Dengan suhu sebesar itu, maka gas dioksin sisa pembakaran sampah secara otomatis akan menghilang. "Kalau hanya dibakar dengan suhu 100 derajat celcius, sisa pembakaran sampah akan menghasilkan gas dioksin. Gas tersebut sangat menganggu kesehatan, makanya bila ada warga yang membakar sampah itu merupakan hal yang salah," jelas Teddy. 

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved