WartaKota/

Tanggapi Pembakaran Polres, NU: Darurat Terorisme

“Ini sudah darurat, enggak bisa diatasi hanya dengan menggunakan badan Densus 88 Polri, perlu seluruh komponen negara

Tanggapi Pembakaran Polres, NU: Darurat Terorisme
istimewa
Mapolres Dharmasraya ludes terbakar 

WARTA KOTA, JAKARTA – Tindakan pembakaran Mapolres Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar), yang dilakukan oleh dua pemuda diduga Jaringan Ansharut Daulah (JAD), dinilai sebagai aksi terorisme

Intelektual muda NU, Ubaidillah Amin Moch meminta pemerintah lebih serius melakukan gerakan kontra terorisme. Aksi pembakaran markas kepolisian itu, menurut Ubaidillah, merupakan cerminan bahwa Indonesia sudah dalam keadaan darurat terorisme.

Ubaidillah mengatakan, tantangan terorisme di Indonesia semakin berbahaya. Pelaku secara terang-terangan menyerang markas aparat keamanan dengan senjata panah api yang meludeskan markas kepolisian.  Pemerintah kata Ubaidillah, perlu menyadari kondisi darurat teroris ini. Polri yang memiliki Densus 88, perlu bersinergi dengan lembaga negara lainnya seperti TNI, Kementerian Ristek Dikti, BNPT, Kemenag serta lembaga lainnya.

“Ini sudah darurat, enggak bisa diatasi hanya dengan menggunakan badan Densus 88 Polri, perlu seluruh komponen negara menyikapi ini semua,” tegas Ubaidillah dalam keterangan persnya, Selasa (14/10/2017).

Lebih lanjut, kata Ubaidillah, satu pelaku merupakan anak seorang perwira polisi. Ia melihat, keluarga polisi idealnya sudah memiliki pemahaman soal Indonesia dan gerakan kontraterorisme.  “Anak perwira polisi melakukan serangan ke Mapolres, di Tangerang juga pernah terjadi seorang adik anggota kepolisian juga melakukan serangan ke aparat. Dengan menyebut atas nama Allah. Ini menjadi tantangan yang sangat serius,” kata pengasuh Ponpes Annuriyah, Kaliwining, Jember itu.

Perppu Ormas yang sudah disahkan jadi UU, kata dia,  tak bisa dianggap sebagai satu-satunya langkah menumpas tindakan radikalisme. Ubaidillah mengurai, berkenaan dengan ideologi dan pikiran manusia, secara hukum posisitif sih bisa tapi belum tentu efektif, pikiran radikalisme harus dilawan dengan gerakan anti radikalisme yang terstruktur, bahwa terorisme itu bukan tindakan yang benar secara agama,” tandas pria yang juga Wakil Ketua LAZIZNU itu.

"Pemerintah dalam melakukan geraka kontra terorisme harus lebih giat melibatkan organisasi masyarakat Islam yang jelas-jelas menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tuturnya lagi. Ia menyebut NU dan Muhammaduyah sejauh ini concern dalam menjalanakan dakwah Islam moderat, cinta tanah air. Kedua ormas itu menurut Ubaidillah peru dilibatkan secara aktif. “Ormas seperti NU dan Muhammadiyah harus dilibatkan, diajak duduk bareng menyikapi ancaman teroriseme,” tukasnya.

Seperti diketahui, Mapolres Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar) ludes dilalap api lantaran dibakar oleh dua orang, yakni Eka Fitria Akbar (24) dan Enggria Sudarmadi (25). Kedua orang itu sendiri diduga merupakan bagian dari kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Salah satu pelaku diduga meruakan anak seorang perwira polisi.

Penulis: Ahmad Sabran
Editor: ahmad sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help