WartaKota/

Korupsi KTP Elektronik

KPK Jadikan Setya Novanto Tersangka Lagi, Kuasa Hukum Duga Ada Unsur Politik dan Dendam

Sebab, menurutnya, perlakuan KPK terhadap Novanto sangat berbeda dengan perilaku saat menanggapi putusan praperadilan Budi Gunawan.

KPK Jadikan Setya Novanto Tersangka Lagi, Kuasa Hukum Duga Ada Unsur Politik dan Dendam
Kompas.com/Robertus Belarminus
Fredrich Yunadi, pengacara Ketua DPR RI Setya Novanto melaporkan dua pimpinan dan dua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Bareskrim Polri ke Bareskrim Polri, Jumat (10/11/2017). ( 

WARTA KOTA, GAMBIR - Ditetapkannya kembali Setya Novanto sebagai tersangka KTP elektronik, membuat Fredrich Yunadi selaku kuasa hukum, menduga ada unsur politik dan cenderung balas dendam dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebab, menurutnya, perlakuan KPK terhadap Novanto sangat berbeda dengan perilaku saat menanggapi putusan praperadilan Budi Gunawan. Saat Budi Gunawan menang praperadilan, tidak dilakukan proses penyidikan kembali.

"Ya, ini saya duga ada unsur politik dan dendam. ‎Ya jelas intervensi di sini (terlihat). Lihat saja dalam waktu dekat, lima 'kuning ditangkap' OTT," kata Fredrich di Kantor Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat (10/11/2017) malam.

Baca: Jejak Setya Novanto, Pernah Berdagang Beras dan Terpilih Menjadi Pria Tampan Surabaya pada 1975

Fredrich mengakui bahwa dirinya bukan seorang politikus dan hanya seorang kuasa hukum. Namun ia menegaskan, aparat hukum tidak boleh bermain politik dalam menegakkan hukum.

"Saya bukan politikus, tapi penegak hukum main politik benar-benar haram," tegasnya.

‎Dirinya pun menyerahkan kepada pihak kepolisian terkait laporan yang ia layangkan ke Bareskrim Mabes Polri, terkait empat oknum KPK yang diduga melawan perintah pengadilan. Dirinya yakin kepolisian mampu menjalankan tugas atas laporannya tersebut.

"Biarlah penyidik yang membuka, ungkap, cari. Polisi kita luar biasa hebatnya, apa pun tindak pidana bisa diungkap," cetusnya. (*)

Penulis: M Zulfikar
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help