WartaKota/
Home »

Bisnis

» Makro

Permintaan Terigu Masih Akan Terus Tumbuh

Untuk meningkatkan produksi hingga dua kali lipat dalam 3-4 tahun mendatang, mulai tahun depan pabrik akan diperluas di lokasi yang sama

Permintaan Terigu Masih Akan Terus Tumbuh
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
HINGGA saat ini produksi terigu PT Bungasari Flour Mills lebih banyak berupa karung isi 25 kilogram. Namun ke depan kemasan 1 kilogram akan lebih diperbanyak karena tingginya permintaan masyarakat dalam bentuk kemasan per kilogram seperti tampak dalam gambar. Diambil di pabrik PT Bungasari Flour Mills di Kota Cilegon, Banten, Rabu (8/11/2017). 

WARTA KOTA, CILEGON --- Permintaan akan terigu di Indonesia diperkirakan akan terus tumbuh. Saat ini rata-rata konsumsi terigu 24 kilogram/tahun atau per kapita. Bandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang sudah mencapai 32 kg/kapita, dan Singapura yang sudah lebih dari 40 kilogram/ kapita. Bila dibandingkan dengan konsumsi beras di Indonesia mencapai 100 kg per kapita.

Padahal, peningkatan pendapatan suatu masyarakat membuat ada keinginan untuk keragaman mengonsumsi makanan. Makanan berbahan terigu biasanya jadi pilihan.

Baca: Ini Cara Bungasari Merebut Pasar Terigu

ADA sekitar 100 merek terigu yang dihasilkan pabrik PT Bungasari Flour Mills. Ada yang dijual per karung isi 25 kilogram dan eceran 1 kilogram. Kisaran harga untuk per karung antara Rp 115.000 sampai Rp 250.000, sedangkan kemasan 1 kilogram antara Rp 7.000 hingga Rp 8.000.
ADA sekitar 100 merek terigu yang dihasilkan pabrik PT Bungasari Flour Mills. Ada yang dijual per karung isi 25 kilogram dan eceran 1 kilogram. Kisaran harga untuk per karung antara Rp 115.000 sampai Rp 250.000, sedangkan kemasan 1 kilogram antara Rp 7.000 hingga Rp 8.000. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

"Kami optimis, kebutuhan akan terigu masih terus berkembang di Indonesia. Pendapatan meningkat, orang makin makan bervariasi misalnya roti, biscuit, dan mie. Semua itu berbahan terigu,” ujar Sales & Marketing Director Bungasari Flour Mills Indonesia Budianto Wijaya kepada wartawan saat kunjungan pabrik yang berlokasi di Kawasan Industri Krakatau, Tegalratu, Kota Cilegon, Banten, Rabu (8/11/2017).

Selain itu, jumlah penduduk yang besar tentunya membuat kebutuhan bahan makanan juga besar. Saat ini konsumsi terigu di Indonesia baru sekitar 5 persen dibandingkan bahan pangan lainnya.  

“Sekarang ini bahan pangan terbesar adalah beras, kedepan bahkan sudah terjadi, untuk mencukupi kebutuhan energi masyarakat tidak tergantung sepenuhnya dari beras. Tapi dari makanan roti dan mie atau sumber energi lainnya,” kata Budianto.

PT Bungasari Flour Mills, bisa dibilang masih ‘anak bawang’ di industri terigu. Baru berdiri sejak tahun 2012.  Perusahaan ini merupakan hasil sinergi dari FKS Group (Indonesia), Toyota Tsusho Corp (Jepang), dan Malayan Flour Mills Berhad (Malaysia).

Saat ini penetrasi Bungasari ke pasar masih sekitar 5 persen. Selain untuk konsumsi lokal, produk Bungasari ini juga diekspor ke sejumlah negara seperti Tiongkok, Filipina, Hongkong, Korea, Thailand, Maladewa. Nilai ekspor dari keseluruha produksi  juga masih sekitar 5 persen. Pangsa pasar terbesar untuk dalam negeri.  

Sejak tahun 2012, produksi setiap tahun berkisar 400.000 ton. Produksi itu habis diserap lokal dan ekspor. “Kita mau meningkatkan kapasitas produksi dulu, karena pasar masih terbuka tapi kapasitas pabrik kita sudah maksimal,” katanya lagi.

KETIKA pengepakan terigu, sebagian besar menggunakan mesin. Hanya sebagian kecil yang masih menggunakan tenaga manusia, di antaranya memasukan karung ke dalam mesin untuk diisi terigu, seperti terlihat di pabrik PT Bungasari Flour Mills, Kota Cilegon, Banten, Rabu (8/11/2017).
KETIKA pengepakan terigu, sebagian besar menggunakan mesin. Hanya sebagian kecil yang masih menggunakan tenaga manusia, di antaranya memasukan karung ke dalam mesin untuk diisi terigu, seperti terlihat di pabrik PT Bungasari Flour Mills, Kota Cilegon, Banten, Rabu (8/11/2017). (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Pabrik Diperluas

Halaman
12
Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help