WartaKota/

Korupsi KTP Elektronik

Kuasa Hukum: SPDP Setya Novanto Hoax

Fredrich mengaku pihaknya belum menentukan sikap untuk mengambil langkah selanjutnya terhadap penyebar SPDP palsu tersebut.

Kuasa Hukum: SPDP Setya Novanto Hoax
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ketua DPR Setya Novanto bersaksi dalam sidang kasus korupsi KTP elektronik dengan terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (3/11/2017). Sidang tersebut beragenda mendengarkan sejumlah keterangan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum KPK, salah satunya Ketua DPR Setya Novanto. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Fredrich Yunadi, kuasa hukum Setya Novanto menegaskan, Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap kliennya terkait proyek e-KTP, adalah berita tidak benar alias hoax.

Selain belum melihat SPDP tersebut, Fredrich menegaskan KPK melalui juru bicaranya, Febri Diansyah, pun telah membantah kabar tersebut.

"Saya belum pernah melihat dan membaca sebagaimana yang diedarkan oleh teman-teman media. Dengan ada bantahan dari Juru bicara KPK, terbukti itu hanya hoax," kata Fredrich saat dihubungi Tribun, Jakarta, Senin (6/3/2011).

Baca: KPK Dapat Surat dari DPR, Periksa Setya Novanto Harus Ada Izin Tertulis dari Presiden

Fredrich mengaku pihaknya belum menentukan sikap untuk mengambil langkah selanjutnya terhadap penyebar SPDP palsu tersebut.

"Belum dapat instruksi," ujarnya.

Sebelumnya, Febri Diansyah mengatakan pihaknya belum bisa menginformasi mengenai SPDP itum karena fokus untuk mendalami perkara e-KTP.

Baca: Bantah Terlibat Korupsi Proyek e-KTP, Setya Novanto: Ini Fitnah yang Sangat Kejam

"Informasi tersebut belum bisa kami konfirmasi. Yang pasti KPK sedang terus mendalami dan memperkuat konstruksi hukum kasus e-KTP ini," tutur Febri Dianyah.

SPDP tersebut menuliskan KPK telah memulai penyidikan terhadap Setya Novanto berdasarkan Sprindik tanggal 31 Oktober 2017. SPDP itu memuat nama Setya Novanto bersama-sama dengan Anang Sugiana Sudihardjo, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Irman, dan Sugiharto. (*)

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help