Troli Penuh Belanjaan Diyakini Hanya akan Tinggal Cerita

kalau sudah pakai troli, tidak hanya barang yang dibutuhkan saja yang dibeli. Barang yang tidak perlu pun biasanya ikut dibeli.

Troli Penuh Belanjaan Diyakini Hanya akan Tinggal Cerita
Kompas.com/Bernama
Asosiasi Pengusaha Ritel Malaysia menyatakan, department store dan supermarket diprediksi bakal mengalami penurunan penjualan sebesar 2,5 persen pada kuartal ketiga 2017. 

Dari tahun ke tahun, traffic leisure meningkat. Saat ini ada peningkatan 0,8 dari sektor yang berhubungan dengan leisure. Sementara ritel hanya naik 0,1 persen. Hal ini menunjukan perbedaan yang luar biasa. Selain makan dan minum sektor pariwisata juga naik.

“Daripada buat belanja, mereka lebih suka menabung untuk hal lain, seperti traveling. Pameran travel selalu ramai dan tiket selalu habis. Masyarakat sekarang lebih smart dan belanja bukan segalanya lagi,” ujar Roy.

Sementara, pada masyarakat kelas menengah ke bawah lebih karena tidak punya uang untuk belanja.

Anggaran Pemerintah baru tersalurkan 30 persen padahal dua bulan lagi tahun segera berakhir.

Akibat dana Pemerintah yang tidak tersalurkan akan membuat tidak ada produktivitas atau tidak ada kerjaan, tidak ada hasil, sehingga tidak ada konsumsi.

Aturan yang Setara

Kesetaraan e-commerce dan ritel konvensional dibutuhkan. Roy mengungkapkan, sejauh ini ritel harus mematuhi aturan yang dibuat Pemerintah.

Ketika akan memasukan barang dari luar negeri ke dalam negeri, peritel harus membayar bea masuk. Belum lagi ketentuan SNI (Standar Nasional Indonesia), penggunaan bahasa Indonesia di label hingga penggunaan tas plastik yang lebih ramah lingkungan. Sementara e-commerce belum ‘dipusingkan’ dengan ketentuan tersebut.

“Ritel modern selalu dukung peraturan. Ritel harus pakai bea masuk itu akan menyebabkan ekonomi biaya tinggi,” ujarnya. Para peritel mengharapkan Pemerintah segera menerbitkan peraturan di e-commerce. Belanja daring sudah aktif, tapi aturan belum ada. Termasuk soal perpajakan. Konsumen yang membeli online dari luar negeri, barangnya tidak ada bea masuk serta pajak. Hal itu seharusnya yang diatur Pemerintah.

“Kita nggak minta apa-apa. Hanya saja perlu equal treatment terhadap e-commerce. Kenapa sampai saat ini peraturan online belum keluar. Antisipasi jangan sampai barang kita menjadi lebih mahal ketimbang barang di negera lain. Sehingga konsumen belanja di luar negeri. Airlines lebih murah membuat belanja di luar negeri. Antisipasi jangan sampai barang kita jadi lebih mahal ketimbang barang di negara lain,” ujar CEO Sogo Handaka Santosa di kesempatan yang sama.

Halaman
123
Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help