Roy Suryo Sebut Proyek Kereta Cepat Sebagai Proyek Kecebong

Kecebong itu kereta cepat boong boongan, iya Ini boong boongan karena sebenarnya tidak perlu membangun kereta cepat Jakarta-Bandung

Roy Suryo Sebut Proyek Kereta Cepat Sebagai Proyek Kecebong
Wartakotalive.com/Jepri MA
Model berfoto dengan miniatur kereta cepat milik Tiongkok pada pameran Kereta Cepat dari Tiongkok di Senayan City (Sency), Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2015). Pemerintah Indonesia merencanakan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dan Pemerintah Tiongkok merupakan salah satu pihak yang menawarkan kerjasama dalam pembangunan kereta cepat tersebut. 

WARTA KOTA, JAKARTA-  Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo menyindir keras sejumlah proyek yang dibangun pada pemerintah Joko Widodo.

Sindiran tersebut disampikan Roy saat hadir dalam diskusi menolak proyek reklamasi yang dihadiri Ketua Dewan Kehormatan (PAN) Amien Rais, Ketua Tim Sinkronisasi Anies-Sandi Sudirman Said, dan Kesatuan Nelayan tradisional Indonesia ‎Martin Hadiwinata di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, (2/11/2017).

Selain reklamasi, menurut Roy proyek kereta Api cepat Jakarta-Bandung yang dibangun pemerintah Joko Widodo juga bermasalah.

Roy menyebut proyek kereta cepat itu merupakan proyek kecebong. Yang dimaksud kecebong menurut Roy adalah kereta cepat bohongan. 

"Beberapa waktu lalu kita lihat proyek yang saya sering menyebutnya bahkan saya katakan itu proyek kecebong," kata Roy.

Pasalnya kereta cepat yang melintasi jalur sepanjang 142,3 kilometer tersebut tidak efektif.

Kereta harus berhenti selama empat kali salah satunya di stasiun yang dibangun di Kota Walini.

"Kecebong itu kereta cepat boong boongan, iya Ini boong boongan karena sebenarnya tidak perlu membangun kereta cepat Jakarta-Bandung yang berhenti 4 kali," katanya.

Pemberhentian stasiun yang dibangun di Kota Walini menurut Roy hanya untuk kepentingan pengembang.

Selain itu pembangunan juga merusak lingkungan karena telah membabad hutan.

‎"Waktu saya masih di Komisi VI beberapa waktu lalu, komisaris PTPN kita dorong untuk menolak itu. Dan sampai sekarang kecebong tetap menjadi kecebong," ujarnya.

Editor: ahmad sabran
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved