Fenomena Bergugurannya Bisnis Ritel Diyakini Bukan Dampak Daya Beli Masyarakat Menurun

Tutupnya ritel modern seperti gerai Seven Eleven, lalu 3 gerai Lotus tutup membuat banyak pihak terperangah.

Fenomena Bergugurannya Bisnis Ritel Diyakini Bukan Dampak Daya Beli Masyarakat Menurun
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Ilustrasi. Antrean mengular di Lotus. 

“Kalau Cuma ngomong ya enak, tapi harus lewat riset dan analisis. Orang hanya kira-kira,” ujarnya.

Ia mengakui Pemerintah agak lamban mengantisipasi fenomena ini. Padahal perlu dideteksi supaya tahu akar permasalahannya di mana dan ada ‘obat’ untuk mengatasinya.

CEO Sogo Handaka Santosa menganggap bisnis retail tidak ada matinya. Syaratnya pengusaha tahu apa yang diinginkan konsumen.

Saat ini ada perubahan yang besar yang terjadi.

Seperti munculnya e-Commerce, perubahan gaya hidup atau lifestyle.

Namun, ia menolak jika tutupnya toko karena daya beli menurun.

Ketika Lotus menutup 3 gerainya di akhir Oktober, pada 5 November mendatang, Sogo cabang Karawaci baru dibuka.

“Sebenarnya ini hanya strategi bisnis, agar kinerja peperusahan menjadi lebih bagus. Ibaratnya mengamputasi yang luka untuk menghidupkan bagian yang lain. Ujung-ujungnya menaikan profit, biar investor bisa berminat. Karena kalau eknomi tidak bagus investor tidak berminat,” tegasnya.

Ritel modern harus mau berubah untuk mengantisipasi perubahan gaya hidup masyarakat.
Masyarakat ke pusat perbelanjaan mencari pengalaman lain berbelanja.

Berbelanja bisa sekalian medicure pedicure, melihat atau memegang barang yang akan dibelinya.

Hal-hal lain yang tidak didapat saat belanja online.

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help