Fenomena Bergugurannya Bisnis Ritel Diyakini Bukan Dampak Daya Beli Masyarakat Menurun

Tutupnya ritel modern seperti gerai Seven Eleven, lalu 3 gerai Lotus tutup membuat banyak pihak terperangah.

Fenomena Bergugurannya Bisnis Ritel Diyakini Bukan Dampak Daya Beli Masyarakat Menurun
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Ilustrasi. Antrean mengular di Lotus. 

Secara keseluruhan bagi distributor, baik online ataupun offline tidak masalah. Selama barang-barang itu bisa terdistribusikan. Hanya saja, bila retail konvensional gugur, yang rugi adalah karyawan toko tersebut. Tidak dengan pengusahanya.

“Bagi pemasok dengan adanya perubahan offline ke online, selalu ada cara yang lain. Tapi kalau toko yang tutup akan ada karyawan yang dirumahkan. Lalu, bagaimana karyawan itu membayar cicilan rumah atau lain,” ujarnya.

Bagi anggota Komisi VI Darmadi Durianto, fenomena tutupnya beberapa retail modern perlu dikaji lebih dalam.

Bisa jadi karena berbagai sebab, bukan karena satu sebab.

"Ada dari dulu bermasalah, suka ngemplang, pemasok tahu itu mana yang suka ngemplang. Ada yang memang ingin membangkrutkan diri supaya tidak bayar 100 persen tapi hanya 20-30 persen saja. Kalau pailit utang karyawan bisa tidak dibayar. Nah kalau ini berhasil bisa banyak yang ikut-ikutan," kata Darmadi di kesempatan yang sama.

Ia tidak memungkiri, ada retail yang gugur karena bisnisnya sepi, nggak bisa nutup omzet, omzet turun, rugi terus meneurs jadi ditutup saja.

Tapi, perlu dikaji sebab-sebabnya.

Termasuk adanya fenomena shifting.

Menurutnya, selama ini, bahkan Pemerintah belum melaksanakan riset mendalam tentang kondisi, saat ini.

Banyak pengamat bilang gara-gara shifting, ternyata setelah dihitung, kontribusi e-commerce masih kecil.

Halaman
123
Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help