WartaKota/

Awas Gunung Agung

Kata Gubernur Bali, Gunung Agung Harusnya Meletus pada 23 September 2017

Memakai pakaian adat dan baju putih, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika bercerita panjang lebar terkait fenomena Gunung Agung.

Kata Gubernur Bali, Gunung Agung Harusnya Meletus pada 23 September 2017
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Gunung Agung terlihat di atas Bukit Pantai Amed, Karangasem, Sabtu (30/9/2017). Sampai saat ini status Gunung Agung masih awas, lima kecamatan masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB), yakni Kecamatan Kubu, Abang, Karangasem, Bebandem, Selat, dan Rendang. 

WARTA KOTA, DENPASAR - Memakai pakaian adat dan baju putih, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika bercerita panjang lebar terkait fenomena Gunung Agung.

Aktivitas kegempaan Gunung Agung menurun, hingga membuat statusnya juga turun dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga), baik dari aspek skala (yang terlihat) dan niskala (yang tak terlihat).

Pastika mengungkapkan, dari perhitungan ilmiah PVMBG, Gunung Agung harusnya meletus pada 23 September 2017 pukul 16.00 Wita. Namun ternyata meleset.

Baca: Status Gunung Agung Diturunkan Jadi Siaga, Radius Daerah Bahaya Jadi Enam Kilometer

Perhitungan ini, kata Pastika, berdasarkan intensitas kegempaan, pergerakan magma, dan ada beberapa model serta perhitungan lainnya.

Sebelumnya, PVMBG sudah tepat meramalkan dan mendeteksi erupsi Gunung Kelud dan Gunung Merapi di Yogyakarta.

“Terbukti mereka ahli, karena Gunung Merapi persis diramalkan meletusnya, Gunung Kelud selisihnya satu jam. Gunung Agung dinyatakan Awas pada 22 September malam, dan menurut mereka meletus 23 September," jelas Pastika yang membuat para awak media terkejut dengan ucapannya, dalam konferensi pers di press room Biro Humas Pemprov Bali, Denpasar, Senin (30/10/2017).

Baca: Gunung Agung Turun Status, Pengungsi Mulai Pulang ke Kampung Halaman

"Tetapi apa yang terjadi, tanggal 23 September pagi sampai siang mulai turun hujan, justru tidak meletus. Okelah kita tunggu dua minggu, pasti meletus, ternyata dua minggu tidak meletus,” sambung Pastika.

Kemudian, Pastika menceritakan kembali bahwa ia bertanya dan mempelajari apa saja hal detail dari PVMBG. Mulai dari kenapa diperkirakan meletus 23 September, dan bagaimana cara menghitungnya. Namun, akhirnya semua perhitungan itu meleset, yang kemudian dijawabnya dalam pengertian yang lebih niskala, karena Gunung Agung penuh kekuatan besar dan suci.

“Artinya apa? Mari kita instrospeksi, terutama masyarakat di sekitar Gunung Agung, sudahkan kita menjaga kesucian Gunung Agung? Masih angkuhkah kita? Mari instrospeksi. Apa rezeki berlimpah dengan letusan tahun 1963 sudah dilaksanakan dengan dharma agama, hal ini mudah-mudahan menyadarkan kita semua,” paparnya. (AA Gde Putu Wahyura)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help