Mucikari Online ini Dibekuk di Hotel Saat Menunggu Perempuan yang akan Dia Jual

"Pelaku berinisial PP kami sergap saat sedang menunggu seorang wanita yang dijualnya di Hotel B Surabaya," ujar AKBP Leonard Sinambela

Mucikari Online ini Dibekuk di Hotel Saat Menunggu Perempuan yang akan Dia Jual
Antaranews.com
Poster Kampanye Stop Prostitusi Online (ANTARA FOTO/Maulana Surya) 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya berhasil membekuk PP, seorang mucikari prostitusi daring (dalam jaringan) atau online, yang menjalankan bisnisnya melalui media sosial.

"Pelaku berinisial PP kami sergap saat sedang menunggu seorang wanita yang dijualnya di Hotel Bali Surabaya," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Leonard Sinambela kepada wartawan di Surabaya, Jumat.

Dikemukakannya, penangkapan atas pria berusia 36 tahun yang tinggal di Jalan Tambak Laban Surabaya itu merupakan tindak lanjut operasi penggerebekan kamar hotel tempat perempuan yang dijualnya secara daring sedang melayani pelanggan.

"Sekaligus kami amankan barang bukti uang tunai Rp300 ribu hasil transaksi prostitusi dan sebuah telepon seluler yang biasa digunakan untuk menjalankan bisnisnya," kata Leonrad Sinambela.

Saat disidik polisi, lanjut Leonard, PP mengaku baru menjalani bisnisnya selama tiga bulan terakhir.

Polisi juga memperoleh informasi bahwa mucikari ini memiliki 10 perempuan yang ditawarkan melalui media sosial Facebook. Usia mereka berkisar 20-an tahun.

"Dia membuat beberapa akun grup facebook. Kalau ada yang berminat, selanjutnya transaksi berlanjut melalui WhatsApp," ujar Leonard, menjelaskan.

Informasi lain yang diperoleh polisi ialah bahwa biaya yang dikenakan untuk dapat berkencan dengan para perempuan mulai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu untuk sekali kencan di luar biaya pemesaan hotel. Dari harga tersebut PP mengambil keuntungan hingga separuhnya.

Saat ditangkap di Hotel Bl Surabaya, misalnya, PP mengaku nilai transaksinya mencapai Rp300 ribu. Dari harga itu ia mengambil Rp150 ribu.

Kepada polisi, PP berdalih terpaksa menjalani bisnis tersebut untuk menolong para perempuan yang menjadi anak buahnya.

Polisi menjeratnya dengan pasal 2 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. "Ancaman pidananya maksimal 15 tahun penjara," ucap Leonard.

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved