Kubangan Sampah Itu Menjelma Jadi Dermaga Apung

Dermaga apung juga menjadi solusi yang tepat tanpa harus membuat penyempitan di muara yang akan mengakibatkan banjir.

Kubangan Sampah Itu Menjelma Jadi Dermaga Apung
Warta Kota/Feryanto Hadi
Sejak dibuatkan dermaga apung, sebagian dermaga darurat itu dibongkar sesuai instruksi dari Kementerian Kemaritiman. 

WARTA KOTA, CILINCING -- Abdul Karim tersenyum lega. Tangkapan ikan kali ini lumayan banyak. Ia memperkirakan, jumlahnya mencapai 1,5 kwintal terdiri dari ikan kakap, kembung dan ikan tembang.

Ia bersama tiga rekan lainnya pun bersemangat ketika mencabuti ikan-ikan yang masih terperangkap di jaring pada Jumat (27/10/2017) siang, di kawasan Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara.

Karim mengungkapkan, ribuan nelayan di sana semakin bersemangat sejak dibangunnya dermaga apung melalui program Corporate Social Responcibility (CSR) PT Pertamina (Persero).

Sejak dibuatkan dermaga apung, sebagian dermaga darurat itu dibongkar sesuai instruksi dari Kementerian Kemaritiman.
Sejak dibuatkan dermaga apung, sebagian dermaga darurat itu dibongkar sesuai instruksi dari Kementerian Kemaritiman. (Warta Kota/Feryanto Hadi)
sejak dibuatkan dermaga apung, sebagian dermaga darurat itu dibongkar sesuai instruksi dari Kementerian Kemaritiman.
sejak dibuatkan dermaga apung, sebagian dermaga darurat itu dibongkar sesuai instruksi dari Kementerian Kemaritiman. (Warta Kota/Feryanto Hadi)
Sejak dibuatkan dermaga apung, sebagian dermaga darurat itu dibongkar sesuai instruksi dari Kementerian Kemaritiman.
Sejak dibuatkan dermaga apung, sebagian dermaga darurat itu dibongkar sesuai instruksi dari Kementerian Kemaritiman. (Warta Kota/Feryanto Hadi)

Dermaga itu mulai dioperasikan pertengahan Agustus 2017 lalu. Dengan adanya dermaga apung itu, kata Karim, nelayan makin mudah dalam melakukan bongkar muat ikan hasil tangkapan.

"Sejak beberapa bulan lalu saya dan kawan-kawan melaut dua kali sehari. Kalau siang iseng-iseng saja cari ikan di dekat pantai. Tapi hasilnya juga lumayan. Hari ini saja dapat sekitar 1,5 kwintal," kata Abdul Karim, pria berusia 30 tahun kepada Warta Kota di sela aktivitasnya.

Karim menggambarkan betapa payahnya melakukan bongkar muat ikan sebelum adanya dermaga apung.

etiap perahu saat itu harus bersandar di dermaga buatan yang sangat sederhana.

Proses pengangkutan ikan dari perahu menuju daratan pun membutuhkan tenaga tambahan karena akses yang kurang memadai.

"Dulu kalau bongkar muat susah karena saat kita ngangkut harus lewat jembatan buatan sendiri yang lebarnya cuma satu meter. Terus perahu harus antre karena keterbatasan dermaga. Kalau sekarang lancar," ucapnya.

Dengan wajah semringah, nelayan lain bernama Darnawi (30) berterimakasih kepada pihak-pihak yang perduli dengan nasib nelayan kecil, termasuk kepada PT Pertamina yang telah membangun dermaga apung di sejumlah titik di kawasan itu.

Halaman
1234
Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help