Kolom Alex Palit

Antara Presiden Jokowi dan Bambu Carang Gantung

Presiden Jokowi harus mampu menjaga, mengayoni dan melindungi tunas-tunas rating dari hama wereng yang bisa merusak harmonisasi toleransi.

Antara Presiden Jokowi dan Bambu Carang Gantung
Warta Kota/Henry Lopulalan
Presiden Joko Widodo (tengah) menyapa pekerja konstruksi usai meresmikan Pembukaan Percepatan Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, Kamis (19/10). 

Oleh: Alex Palit

Sekedar amatan ulasan 3 tahun pemerintahan Presiden Jokowi dari sepotong bambu carang gantung. Sebagaimana judul tulisan “Antara Presiden Jokowi dan Bambu Carang Gantung”, tanpa mengurangi rasa hormat, saya hanya ingin membaca dan mengungkap makna filosofi bambu carang gantung yang dikaitkan dengan kepemimpinan Presiden Jokowi.

Sebelumnya, di sini saya akan mengulas filosofi membaca bambu mengungkap apa dan siapa yang tersurat dan tersirat di balik bahasa tanda bambu carang gantung.

Kenapa spesifikasi keunikan bambu ini disebut bambu carang gantung.

Dalam khasanah pengaji deling di kalangan Pecinta Bambu Unik Nusantara (KPBUN), bambu carang gantung adalah dari sebatang bambu utama yang tunas-tunas ranting (carang) yang pertumbuhannya menggantung berada di atas ruas.

Jadi bambu carang gantung adalah bambu yang tunas-tunas atau carang rantingnya tumbuh dan berkembang di atas ruas batang utama.

Sebagai pengamat dan pengaji bambu unik, di sini saya hanya ingin mencoba mengulas filosofi pemerintahan kepemimpinan Presiden Jokowi dalam hubungannya dengan bambu carang gantung.

Di mana secara filosofi bambu carang gantung ini sering dikaitkan sebagai simbolisasi kepemimpinan.

Walau di Pilpres 2014 kemarin saya bukan pendukung pasangan Jokowi – Kalla. Malah kala itu banyak tulisan saya sebagai citizen jurnalis mengkritisinya.

Tapi begitu pasangan No. 2 ini memenangi Pilpres 2014, dan Jokowi dilantik sebagai Presiden 2014 – 2019, sebagai warganegara, bagaimanapun juga saya harus mengapresiasi kepemimpinan Jokowi sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, dan simbol negara.

Halaman
12
Editor: Achmad Subechi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved