WartaKota/

Berlian Asal Indonesia Belum Diperhitungkan Dunia

Perusahaan perhiasan berskala besar sulit menggunakan berlian Indonesia karena standar serta sertifikat keasliannya belum diakui internasional.

Berlian Asal Indonesia Belum Diperhitungkan Dunia
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
SALAH satu berlian yang dihadirkan di pameran Greatest Love Jewelery Fair 2017 (18-29 Oktober) di Central Park, Jakarta Barat. 

WARTA KOTA, TANJUNG DUREN --- Indonesia memiliki hasil tambang yang luar biasa. Namun  Indonesia tidak dianggap sebagai negara penghasil berlian.

Martapura di Kalimantan Selatan, merupakan salah satu penghasil berlian asal Indonesia. Sayangnya, berlian asal Indonesia itu belum masuk yang  diperdagangan di pasar dunia.

Baca: Ini yang Bikin Investasi Berlian Kurang Atraktif

Salah satu alasannya, berlian tersebut dianggap kualitasnya masih kurang. Berlian yang berkualitas tinggi banyak berasal dari Afrika Selatan,  India, dan Brazil. Bebatuan dari negara-negara itulah yang dijadikan perhiasan berkualitas tinggi dan harganya mahal.

PT Central Mega Kencana mengadakan pameran Greatest Love Jewelery Fair 2017 pada 18-29 Oktober di Central Park. Salah satu pengunjung sedang melihat-lihat perhiasan berlian, Kamis (19/10/2017).
PT Central Mega Kencana mengadakan pameran Greatest Love Jewelery Fair 2017 pada 18-29 Oktober di Central Park. Salah satu pengunjung sedang melihat-lihat perhiasan berlian, Kamis (19/10/2017). (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Karena belum masuk di perdagangan dunia, tentu saja berlian Indonesia belum punya standard harga dan sejauh ini berlian asal Indonesia  belum dijadikan bahan baku perhiasan berkualitas.

Ahli berlian dari Gemological Institute of America Devi Cahyadi menceritakan, Afrika Selatan punya sejarah panjang sebagai penghasil berlian. Walaupun India menjadi asal berlian yang dijadikan batu pertama dan barang bernilai tinggi.

Devi menceritakan, baru tahun 1400an, berlian dijadikan perhiasan dan masuk di kalangan bangsawan dan elit Eropa. Jauh sebelumnya, India telah menjadikan berlian sebagai alat jual beli. Namun  saat itu, berlian belum dijadikan  batu pertama.

Tahun 1700an, Brazil mulai merajai berlian dunia karena batuan itu banyak ditemukan di sana. Tapi, Brazil sebagai penghasil berlian kemudian digeser oleh Afrika Selatan hingga kini setelah di tahun 1800an ditemukan berlian seberat 80 carat.

Berita penemuan berlian di Afrika Selatan mendorong banyak orang terutama orang-orang Inggris untuk hijrah ke Afrika Selatan. Dan tidak sia-sia para pemburu berlian datang ke benua Afrika Selatan.

Awal-awal kedatangan warga Eropa di Afrika Selatan, berlian ditemukan di permukaan bagaikan krikil saja. Cerita itupun lagi-lagi membuat berduyun-duyun orang Eropa berdatangan ke Afrika Selatan, yang belakangan menjadi bagian dari warga kulit putih yang berdiam di Afrika Selatan.

Namun penemuan berlian di permukaan tentu saja tak berlangsung lama. Para pemburu berlian pun harus masuk ke dalam tanah untuk mencari mineral yang terbentuk ribuan bahkan jutaan tahun tersebut atau istilahnya mulai ditambang. Salah satunya adalah Beers yang kemudian menjadi perusahaan berlian yang ternama De Beers Diamond.

BERLIAN mempunyai nilai investasi tersendiri, yakni investasi di status, kecantikan, dan heritage.
BERLIAN mempunyai nilai investasi tersendiri, yakni investasi di status, kecantikan, dan heritage. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

“Indonesia yang terkenal berliannya di Martapura. Tapi Indonesia belum masuk tambang berlian karena tidak diperdagangkan dengan skala besar,” kata Devi saat Media Workshop-Diamond Talk dengan tema Variasi Perhiasan Berlian di Pullman Hotel, Kamis (19/10/2017).

Karena tidak masuk dalam perdagangan dunia,  tentu saja harganya pun tidak ada yang baku. Sehingga bagi perusahaan perhiasan berskala besar, sulit menggunakan berlian asal Indonesia karena standar serta sertfikat keasliannya masih sulit diakui secara internasional.

“Kalau sudah punya sertifikat yang berlaku global, berlian mau dijual di manapun tinggal menunjukan sertifikatnya. Tapi harus diingat, sertifikatnya jangan tertukar,” ujar Devi.

Bagi kalangan yang punya banyak perhiasan berlian, sertifikatnya pun tidak satu, sehingga di sini sangat mungkin tertukar jika tidak hati-hati saat menyimpan dan mengembalikannya usai dipakai. 

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help