WartaKota/

Penjualan Listrik di TPST Bantar Gebang Dipertanyakan

Ada uang penjualan listrik ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang belum diketahui lari ke mana.

Penjualan Listrik di TPST Bantar Gebang Dipertanyakan
Warta Kota/Fitiyandi Al Fajri
Ilustrasi. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Kota Bekasi. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Penggiat lingkungan hidup di Kota Bekasi mempertanyakan penjualan listrik di Tempat Pengolahan Listrik Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi. Sebab pasca pemutusan kontrak kerja antara DKI Jakarta dengan PT Godang Tua Jaya (GTJ) dan Navigat Organic Energi Indonesia (NOEI) sejak Juli 2016 lalu, aliran penjualan listrik belum dijelaskan.

"Ada uang penjualan listrik ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang belum diketahui lari ke mana," kata Direktur Kaukus Lingkungan Hidup Bekasi Raya, Benny Tunggul pada Kamis (19/10/2017).

Benny mengatakan sejak kontrak itu diputus, Pemprov DKI belum menjelaskan aset yang tercecer.

Apalagi, penyerahan aset sampai sekarang belum tuntas dilakukan.

"DKI dengan GTJ masih membahas soal penyerahan aset ini," ujarnya.

Menurut dia, penjualan listrik yang dihasilkan gas metan di TPST Bantargebang ke PLN dihargai sebesar Rp 820 per kwh. Setiap jam, listrik yang dihasilkan mencapai 300 kwh. "Coba dikalikan kalau dalam sebulan, berapa kerugian negara," jelasnya.

Benny menduga, nilai kerugian yang dialami negara pasca pemutusan kontrak kerja sama itu mencapai Rp 2,6 miliar. Hal ini berdasarkan asumsi penjualan listrik selama sebulan sekitar 177.120.000.

Dia merinci, angka itu diperoleh dari produksi listrik sebesar 300 kwh per hari dikalikan 24 jam dengan hasil 7.200 kwh. Jumlah itu, kemudian dikali harga per kwh sebesar Rp 820, dan dikalikan selama 30 hari atau satu bulan, sehingga hasilnya Rp 177.120.000.

Jumlah itu kemudian dikalikan 15 bulan atau sejak TPST diambil DKI pada Agustus lalu , dengan hasil Rp 2.656.800.000. "Kurang lebih nilai kerugiannya sebesar itu," katanya.

Perlu diketahui, kerjasama penjualan listrik ke PLN dilakukan saat TPST Bantargebang masih dikelola pihak ketiga dalam hal ini PT Godang Tua Jaya dan PT Navigate Organic Energi Indonesia (NOEI). Kerja sama penjualan listrik itu dilakukan pada Agustus 2016 sampai sekarang.

GTJ bertugas mengelola sampah menjadi pupuk kompos dan mendaur ulang sampah plastik. Sedangkan NOEI bertugas mengolah gas metan menjadi tenaga listrik.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help